Oleh: Muhammad Rifaldi Souwakil, Kader PMII Komisariat IAIN Ambon
Sejak dahulu kemajemukan yang ada di Indonesia sudah dipersatukan dalam landasan ideologi Pancasila. Dengan semboyan yang dibangun yakni “Bhineka Tunggal Ika yakni berbeda-beda tetapi tetap satu”. Dalam pandangan filosofis makna ini diartikan bahwa meskipun berbeda agama, suku, ras dan golongan namun merupakan satu kesatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam menjejaki slogan kebudayaan masyarakat kota Ambon banyak sekali petuah-petuah yang dipakai masyarakat Maluku untuk mempraktikkan nilai Bhineka Tunggal Ika dalam konteks budaya sebagai pilar mempersatukan atau mempererat hubungan orang basudara di Maluku, baik Kristen, Islam, Budha, Hindu, atau agama lokal dengan menanamkan nilai potong di kuku rasa di daging, sagu salempeng tabagi dua, ale rasa beta rasa katong samua sama sama rasa.
Dalam praktik Bhineka Tunggal Ika prespektif budaya di Maluku di atas tentu saja sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia saya melihat bahwa hal ini relevan dengan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) yang kami anut khususnya pada point Hablumminannas atau hubungan baik antara sesama manusia, tanpa melihat apa sukunya, apa agamanya, termasuk apa latar belakang organisasinya.








