Biar Rindu Dalam Sepertiga Malamku

oleh -52 views

Cerpen Karya: Hasbyan

Byan, ponsel kakak mana? kalau pinjem ngomong dulu dong, jangan main comot aja.” cetus Zahra. Dan langsung melangkah menuju kamar Byan. Dilihatnya Byan sedang mengerjakan tugas.

“Jangan asal nuduh kakakku yang cantik, Byan tidak pinjem dari tadi pagi.” Byan mulai panik, sudah mencari di sudut kamar sampai ke kolong tempat tidur, tidak ia temukan barang elektronik yang bisa digenggam itu. Tiba-tiba Zahra menepuk jidatnya. Teringat saat membayar nasi Padang, ia meletakkan ponselnya di meja tempat tunggu. Zahra melirik jam yang terpaku di dinding. Menunjukkan pukul delapan malam. Tanpa pamit, Zahra menstater motor dan berlalu menuju rumah makan suka suka.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana. Dilihatnya rumah makan itu masih buka. Zahra bergegas masuk.“Permisi Mas,” ucap Zahra. Seseorang laki-laki keluar dari sebuah ruangan. Penampilannya rapi dan agak sedikit berbeda dengan pelayan yang biasa ditemui Zahra.
“Maaf mas, tadi apa ada ponsel yang tertinggal di meja situ ya?” ucap Zahra sambil menunjuk meja dengan jari telunjuknya. Spontan mata laki-laki itu mengikuti arah jari Zahra menunjuk.
“Oh… ponsel dengan merk Samsung ya mbak?” jawabanya.
“Iya benar Mas, itu ponsel saya.” spontan Zahra menjawab.
“Mbak duduk dulu ya, tadi itu memang ada ponsel yang tertinggal, sama pelayan kami disimpan, cuma saya tidak tau dimana disimpannya” Zahra langsung menjawab.
“Trus gimana dong, Mas, padahal isi ponsel itu penting banget buat saya, apalagi banyak nomor yang sudah disave di ponsel itu.” Zahra terlihat panik
“Mbak sabar dulu, biar saya coba cari” ucap laki-laki itu dengan santun.

Zahra tidak bisa tenang, apalagi ponsel itu ada nomor narasumber yang akan mengisi di kampusnya.
Zahra lah yang bertugas menghubungi narasumber tersebut.

1 menit
2 menit
3 menit
4 menit

Laki-laki itu kembali ke tempat Zahra
“Mbak, mohon maaf, saya sudah coba cari tapi tidak ada. Besok saja ponsel itu saya antar ke rumah Mbak.” Zahra tidak bisa menahan emosi.
“Mas ini gimana, kalau benar-benar hilang, Mas, mau ganti?” ucap Zahra dengan ketus. Laki-laki itu tersenyum. Baru kali ini ada pelanggan cewek yang ketus, pikirnya dalam hati.
“Ini kartu nama saya Mbak, besok kalau ponsel mbak tidak kembali langsung hubungi nomor saya,” Laki-laki itu menyerahkan kartu nama, tanpa membaca, Zahra menerima kartu itu dan berlalu dari Rumah Makan suka-suka. Sampai di rumah Zahra uring-uringan. Semua kena amukan emosinya.

“Cantik-cantik kok pikun.” Byan berkata tepat di samping Zahra. Tak ayal, Zahra langsung menjewer telinga adiknya. Suara gelisah terdengar di rumah Pak Imam, suara itu menghilang jika salah satu dari mereka ada yang mengalah.
Zahra merebahkan tubuhnya di kasur dengan sprei motif harimau. Perempuan dengan nama lengkap Zahra kianna itu berusaha memejamkan mata
Melupakan sejenak kegaduhan dalam hati. Malam semakin larut.

Baca Juga  Pj. Wali Kota Ambon Buka Bimtek Pelindungan Data Pribadi bagi Badan Publik

Pagi ini Zahra bangun agak sedikit terlambat. Dengan cepet ia mandi. Memakai gamis warna hitam dengan perpaduan jilbab coklat susu. Zahra terlihat cantik dan anggun.

Zahra mempercepat langkahnya menuju tempat seminar. sampai di lokasi sudah banyak peserta yang datang. gedung yang memuat 180 peserta itu, sudah ramai dengan pemuda dan pemudi. mereka tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Bertatap langsung dengan laki-laki pemuda yang kesuksesannya luar biasa.

“Zahra, kemana saja? dihubungi juga tidak bisa. Gimana dengan narasumbernya?.” Araini, teman Zahra menenteng pertanyaan padanya.
“Maaf, ponselku hilang. Aku belum sempat kontak dengan narasumbernya.” Mata Araini membulat sempurna. Sementara Zahra tertunduk, merasa bersalah.
“Terus gimana, acara 5 menit lagi dimulai, narasumbernya belum datang juga?” Araini terlihat cemas apalagi Zahra.

Baca Juga  Real Count KPU 35% Suara Pileg DPRD Maluku: Golkar Berpotensi Kehilangan Kursi Pimpinan

Tiba-tiba MC sudah berdiri di depan dan membuka acara. Araini dan Zahra mengambil tempat yang disediakan untuk. Saat, perkenalan dengan narasumber, mata Zahra lekat menatap laki-laki yang berdiri di depan. Dia tampak mengerjap.
bukankah itu laki-laki yang ia lihat waktu di rumah makan suka-suka? laki-laki yang kena Omelan, karena tidak bisa menemukan ponselnya?

Zahra teringat kartu yang ia simpan di dalam dompet. dengan tergesa Zahra membuka dompet dan mengambil kartu nama. setelah dicocokkan nama di kartu dengan nama yang tertayang di banner depan panggung. Zahra terkejut. ia tidak bisa membayangkan betapa malunya jika nanti ia bertatapan dengan laki-laki itu. pemilik nama Pratama itu sekarang menjadi idola para remaja di kampusnya. Dan lagi, suara merdunya saat melantunkan ayat-ayat Allah. sungguh, menuduhkan hati pendengar. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.