BMKG dan BNPB Imbau Warga Waspada Jelang Tahun Baru

oleh -84 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat agar mewaspadai cuaca ekstrem dalam sepekan mendatang, periode 23-30 Desember 2019. 

Dalam masa itu, distribusi curah hujan diprakirakan cukup signifikan di sebagian besar sejumlah wilayah Indonesia, antara lain Sumatera, Kalimantan, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.

Umumnya hujan terjadi saat menjelang siang hingga sore. Selain itu, gelombang tinggi yang disebabkan cuaca ekstrem berpeluang terjadi pada 23-28 Desember dengan gelombang setinggi rata-rata 1,25 -2,5 meter.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 23 Desember 2019, mengatakan bahwa potensi cuaca ekstrem di Indonesia dalam sepekan mendatang itu karena “adanya faktor dinamika atmosfer skala regional dan lokal terkini”.

Dinamika atmosfer, katanya, karena adanya monsoon Asia yang mulai menunjukkan aktivitasnya. Dari tanda itu terjadi peningkatan massa udara basah dan terbentuknya pola konvergensi, perkembangan dan belokan angin di beberapa wilayah, serta suhu muka laut hangat yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia.

Dalam siaran pers tentang peringatan dini cuaca pada 23 Desember, BMKG mendasarkan peringatan dini cuaca ekstrem itu pada keberadaan topan phanfone di Samudera Pasifik timur Filipina dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan arah gerak ke Barat-Barat Laut.

Baca Juga  Abis Dari Istana, Artis-artis Ini Langsung Puji Kalung Anti Corona

Sirkulasi siklonik terpantau di Kalimantan Utara (925/900mb) yang dikhawatirkan menghambat aliran massa udara basah dari Asia (aktivitas monsoon Asia) terutama untuk wilayah Kalimantan Barat, lalu terdapat sirkulasi siklonik di Jawa Timur (925/700mb) dan di Papua (925/800mb).

Konvergensi yang terbentuk memanjang dari Sumatera Barat hingga Samudera Hindia barat Sumatera, dari Bengkulu hingga Selat Karimata bagian selatan, dari Sulawesi Barat hingga Maluku Utara, di perairan Selatan Bali-Jawa Timur dan di Papua. Daerah belokan angin terdapat di Kalimantan Barat dan Jawa Tengah.

Bulan-bulan Bahaya

Peringatan dini cuaca ekstrem BMKG itu selaras dengan antisipasi yang dibuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Merujuk catatan BMKG, BNPB menyebut Desember dan Januari adalah bulan berbahaya untuk bencana hidrometeorologi. Sebab di kedua masa itu intensitas hujan mulai meningkat sehingga meningkatkan pula potensi bencana banjir dan tanah longsor.

“Karena Desember sampai Januari adalah bulan-bulan yang berbahaya, karena biasanya terjadi bencana besar,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo dalam keterangan persnya di kantornya, Jakarta, Selasa, 17 Desember 2019. “Kita tidak mengharapkan; ini hanya catatannya bahwa biasa terjadi bencana yang besar seperti banjir, gempa, longsor, dan sebagainya,” ujarnya.

Baca Juga  Satgas Yonarmed 9 Kostrad Melaksanakan Karya Bakti di Pasar Desa Dofa

BNPB telah memetakan 489 kabupaten/kota yang rawan banjir dan longsor. “Jumlah penduduk terpapar dari bahaya banjir sedang-tinggi sebanyak 63,7 juta jiwa,” kata Agus.

Menurut catatan VIVAnews, berdasarkan data BNPB, selama musim hujan tahun 2019, periode 1 Januari-30 April, terjadi 1.586 bencana di seluruh wilayah Tanah Air. Sebanyak 325 orang tewas, 113 orang hilang, 1.439 orang luka-luka, dan 996.143 orang mengungsi serta menderita akibat petaka itu.

“Lebih dari 98 persen bencana yang terjadi adalah bencana hidrometeorologi, sedangkan dua persen bencana geologi,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, pada 29 Maret. “… dari Sabang sampai Merauke kejadian bencana begitu banyak, dan paling banyak memang terjadi di Jawa.”

Provinsi yang paling banyak dilanda bencana, menurut catatan BNPB, adalah Jawa Tengah dengan 356 kejadian, disusul Jawa Timur 204 kejadian, Jawa Barat 173 kejadian, Sulawesi Selatan 59 kejadian, dan Aceh 34 kejadian.

Namun, bencana hidrometeorologi bukanlah satu-satunya jenis bencana di Indonesia; masih ada dua jenis petaka lain, yakni gempa bumi dan gunung meletus. Sejumlah daerah disebut masih rawan gempa di jalur subduksi atau pertemuan lempeng maupun di jalur sesar.

Baca Juga  Warga Capalulu Minta Pemda Normalisasi Kali Sebelum Banjir

Mengantisipasi bencana gempa pada 2020, BNPB merilis data bahwa ada 214 sumber gempa baru yang tersebar di Jawa (37 lokasi), Sulawesi (48), Papua (79 lokasi), serta Nusa Tenggara dan Laut Banda (49 lokasi).

“Kita tidak mengharapkan,” kata Agus Wibowo memperingatkan. “Tapi para ahli masih memperkirakan kita punya banyak megathrust. Ini zona-zonanya megathrust; ini prediksi-prediksi yang kemungkinan akan terjadi gempa besar”. Gempa besar yang dia maksud berskala di atas magnitudo 8. “Tapi kita tidak tahu kapan terjadinya,” ujarnya.

Potensi bencana gunung meletus juga tidak kecil jumlahnya. Menurutnya, ada 75 kabupaten/kota di Indonesia yang berada di daerah bahaya sedang-tinggi erupsi gunung api. Sebanyak 127 gunung api aktif dan ada 3,5 juta penduduk terpapar bahaya sedang-tinggi dari erupsi gunung api itu.

BNPB mengantisipasi semua kerawanan bencana itu dengan membentuk empat tim besar mitigasi bencana berdasarkan kawasan: wilayah I meliputi Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara; wilayah II mencakup Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat; wilayah III meliputi Sumatera; dan wilayah IV mencakup Jawa dan Bali. (red/rtl/viva)