Buku Para Penjilat

oleh -12 Dilihat

Dalil pun dipanggil untuk bekerja.

Ia diletakkan di belakang pujian, seolah-olah kebenaran sebuah penilaian dapat dipastikan hanya karena telah ditemukan ayat, hadis, perkataan ulama, atau kisah orang-orang saleh yang sekilas memiliki kemiripan. Dengan cara demikian, pujian memperoleh pakaian kesalehan. Ia tidak lagi tampak sebagai kekaguman pribadi, melainkan seperti kesimpulan yang telah memperoleh legitimasi dari langit.

Di sinilah kita mulai memasuki wilayah yang absurd.

Sebab manusia yang sedang dibicarakan perlahan kehilangan sifat manusianya. Ia tidak lagi cukup disebut baik; ia harus selalu memiliki alasan mengapa dirinya baik. Ia tidak cukup melakukan sesuatu yang terpuji; tindakan itu harus ditempatkan dalam bingkai moral yang lebih tinggi. Dan ketika ada sesuatu yang sulit dipertanggungjawabkan, selalu tersedia tafsir untuk menyelamatkannya.

Mereka seperti sedang mencari stok nabi yang tersisa.

Baca Juga  Jusuf Kalla Dorong Dialog Politik untuk Selesaikan Persoalan Papua

Padahal tidak ada stok semacam itu. Kenabian bukan ruang yang dibiarkan kosong untuk kemudian diisi oleh manusia yang dipilih oleh para pemujanya. Tidak ada manusia biasa yang dapat diangkat menjadi sosok ma’shum hanya karena orang-orang di sekelilingnya menemukan cukup banyak kata untuk memujinya.

No More Posts Available.

No more pages to load.