Buku Para Penjilat

oleh -13 Dilihat

Jika tidak sama, buku itu menghadapi masalahnya sendiri.

Bukan karena pembaca terlalu kejam, melainkan karena kenyataan memiliki cara yang sederhana untuk membantah kata-kata: ia hanya perlu tetap menjadi kenyataan.

Maka sesuatu yang dimaksudkan sebagai penghormatan dapat berubah menjadi bahan olok-olok. Sosok yang hendak dibuat semakin tinggi justru tampak semakin jauh dari kewajaran. Pujian yang semula dimaksudkan untuk mengangkatnya malah menjadi ukuran yang membuat setiap kenyataan tentang dirinya terlihat semakin kontras.

Begitulah pujian yang kehilangan ukuran bekerja.

Ia tidak hanya gagal meyakinkan orang lain. Dalam keadaan tertentu, ia justru membuat orang lain semakin ingin memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.

Dan ketika pemeriksaan itu dimulai, para penjilat tidak lagi memegang kendali atas cerita yang mereka tulis sendiri.

Baca Juga  Lima Kades Diperiksa dalam Kasus Bansos Halbar, 35 Kades Masuk Daftar Tunggu

Ada ironi lain yang lebih sunyi: orang yang dijilat belum tentu mengetahui bagaimana dirinya telah dijilat.

Ia mungkin tidak pernah membaca seluruh halaman. Mungkin hanya mendengar bahwa namanya disebut dengan baik.

Kita bahkan tidak tahu apakah ia menyukainya.

Bisa jadi ia merasa senang. Bisa pula ia justru merasa asing melihat dirinya digambarkan sedemikian sempurna. Tetapi semua itu tidak lagi penting bagi para penulisnya. Mereka telah menemukan dunia sendiri: dunia tempat pujian terus mengalir dan kesempurnaan harus dipertahankan.

No More Posts Available.

No more pages to load.