Buku Para Penjilat

oleh -12 Dilihat

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

“Musuh terbesar bahasa yang jernih adalah ketidaktulusan.”
— George Orwell

Ada sesuatu yang ganjil ketika pujian mulai kehilangan jarak dari kenyataan. Kata-kata yang semestinya menjadi cara untuk menggambarkan seseorang berubah menjadi alat untuk membangun sosok yang lain: lebih luhur, lebih bersih, lebih sempurna daripada manusia yang sesungguhnya.

Dari sanalah sebuah buku para penjilat dapat bermula.

Ia lahir dari banyak suara yang datang dari latar belakang berbeda. Mereka tidak harus saling mengenal, tidak harus memiliki cara pandang yang sama. Tetapi ketika berhadapan dengan sosok yang hendak mereka puji, tiba-tiba mereka menemukan bahasa yang serupa. Kata-kata menjadi lembut, kesaksian menjadi tinggi, dan kekaguman disusun sedemikian rupa hingga nyaris tidak menyisakan ruang bagi pertanyaan.

Baca Juga  Rp4 Miliar Hibah Pemkot Ambon Dipertanyakan, 15 Penerima Disebut Tak Ajukan Proposal

Pujian pun tidak lagi berdiri sebagai pujian. Ia mulai menyerupai pembentukan citra.

Seseorang yang sebenarnya hidup sebagai manusia biasa perlahan dipindahkan ke ruang yang berbeda. Di sana, sisi baiknya diperbesar, sementara sisi yang mungkin mengganggu gambaran itu dibiarkan berada di luar bingkai. Hanyalah kebajikan yang tampak. Hanyalah kesalehan yang terdengar. Dan yang dicatat hanyalah hal-hal yang membuat sosok tersebut semakin pantas dikagumi.

Para penulisnya mungkin merasa sedang memberikan kesaksian. Tetapi kesaksian yang terlalu jauh dari keraguan dapat berubah menjadi sesuatu yang lain. Ia tidak lagi membantu pembaca mengenal seseorang, melainkan mengarahkan pembaca untuk mengaguminya.

No More Posts Available.

No more pages to load.