Oleh: Mansyur Armain, Pegiat Literasi dan Jurnalis
CALA IBI, itu sebutan dari orang-orang terdahulu, bahwa dia mahkluk buas. Ia dikatakan sebagai pembawa pesan-pesan untuk menakuti siapapun yang ingin bertemu. Warna-warna berkilau, sisik seperti emas, dan memiliki sayap. Bukan hanya itu, Cala Ibi selalu bercakap-cakap dengan orang. Berbahasa. Tetapi bahasa yang dipakai oleh naga, seperti manusia.
Sebuah imaji dari seorang Nukila Amal, tentang Novel Cala ibi, dilahirkan agar tidak sekedar kisah dari seorang naga. Kehidupan sang naga, telah lama dipercaya sebagai pemberi dari langit. Turun ke bumi mencari siapa sosok dirinya. Itupun, berhubungan dengan kerajaan yang dianggap titipan untuk mengabdi kepada seorang bapak atau ibu. Nukila, menggambarkan bagaiamana wujud sang naga, ke dalam hal berbicara.
Kepala naga. Kau tersentak, tanganmu refleks mencengkeraman keras. Kepala itu terangguk-angguk, mengeluarkan bunyi batuk-batuk seperti tersedak. Rasa takut, mucul sekejab entah dari relung mana, tiba-tiba melebar meluas merasuki seluruh dirimu dalam beberapa detik saja sering suara batuk mahluk itu.
Kau seperti kaku,, dan gerak terakhirmu adalah melempar isi genggamanmu. Lemparan yang lemah, karena mainan naga itu mendarat di bantal sebelahmu, tak jauh. Kau terbujur kaku menatapnya, benda mati yang menghidup mainanan yang mesti diseriusi. Mosnster, benakmu berseru-seru takut ini mimpi buruk.









