Catatan atas Pidato Anies Baswedan: Menunggu Patriotisme Relawan

oleh -131 views

Dari pidatonya itu, dua hari ini Anies menjadi sangat revolusioner. Pikiran Anies merupakan pikiran vis-a-vis, tidak ada pragmatisme dan kompromi. Namun, Anies mengatakan bahwa kekuatan dia adalah beradu (perang) gagasan, bukan beradu lari. Mungkin maksudku, gagasan ini harus menjadi gagasan yang diterima mayoritas rakyat kita. Setidaknya diterima para pendukungnya. Barulah kemudian implementasi dapat dilakukan.

Penutup

Dua hari ini, hari Kebangkitan Nasional dan Hari Reformasi, Anies telah menyampaikan gagasan revolusioner tentang perubahan ke depan. Perubahan itu merujuk pada spirit UUD45 dan Reformasi politik. Spirit UUD 45 artinya memakmurkan semua rakyat miskin, atau keadilan sosial bagi semua anak bangsa. Spirit kedua soal Reformasi, bagaimana kita mempertegas demokrasi sebagai pilihan. Karena, demokrasi mengajarkan kita untuk mempunyai negara yang bisa dikontrol rakyat, negara bisa membuat adanya partisipasi rakyat. Anies meyakini bahwa negara akan memakmurkan rakyat secara adil dan merata jika ada partisipasi rakyat atau demokrasi itu.

Baca Juga  Dua Petugas LPKA Ambon Raih Penghargaan

Dari sisi gagasan dan narasi politik ini, tentu semua pendukung Anies harus siap siaga. Anies bukan bicara tentang nasionalisme atau kebangsaan yang stagnan. Anies bicara tentang “What is to be done”. Sebuah Gerakan. Sesuatu yang dinamik. Di sisi ini yang perlu kita camkan adalah soal patriotism, bukan nasionalisme lagi. Patriotisme membutuhkan pengorbanan dan kerja keras, sedangkan nasionalisme seringkali hanya klaim eksistensialtanpa makna.

No More Posts Available.

No more pages to load.