Namun zaman bergerak, waktu berlalu, dan tentu kebijakan pun berubah. Saya tak tahu lagi bagaimana “trik” atau kebijakan media cetak surakbabar harian sekarang.
Saya juga tak tahu bagaimana kebijakan redaksional Majalah Berita Mingguan Tempo yang sedang viral itu.
Setelah beberapa kali pemberitaan cover story-nya yang terasa menimang dan mengapresiasi Jokowi sampai naik ke kursi RI 1, lalu kemudian memicu pro kontra setelah karena pada cover edisi terbarunya pekan ini beraroma mengkritisi Sang Presiden.
Rasanya, baik pada edisi Tempo mengapresiasi pada edisi terdahulu atau mengkrirtisi pada edisi terbaru, pro kontra dari dua (atau lebih) kelompok berbeda kepentingan, ada dan terasa.
Kalau saya sih masih tetap (berusaha) percaya, bahwa semua pemberitaan Tempo tentang Jokowi –baik yang edisi menimang, mengapresiasi, dan mengkritisi, masih ada dalam koridor cover both sides dan kode etik jurnalistik.
Oleh karena itu, kepada kedua kelompok berbeda, saya juga (berusaha) menyarankan, Tempo tak perlu terlalu dipuji sebagai “baru tersadar”. Tak perlu juga dimusuhi sebagai telah menghina Presiden.
Apalagi sampai ada yang menjadikannya sebagai perkara pelanggaran hukum. Karena, ini perkara biasa dalam kerja sebuah media. Ada saat menimang, mengapresiasi, dan mengkritisi.




