Kalau pun ke depan demo terus berlanjut, itu bukan sekadar soal Affan. Rakyat sudah lama menumpuk kekecewaan. Ingat Kanjuruhan 2022? Lebih dari 130 nyawa melayang. Ingat konflik Km 50, Rempang, Wadas, atau Morowali? Rakyat dipukul, diusir, dikriminalisasi. Polisi selalu hadir, tapi lebih sering dalam wujud pentungan, gas air mata, dan borgol.
Dalam psikologi sosial, ini disebut accumulated grievance —keluhan berlapis yang lama-lama jadi bara. Affan hanyalah percikan kecil; bensinnya sudah lama ditumpahkan oleh negara sendiri.
Nah, masuklah kita ke teori chaos. Dalam literatur gerakan massa ada istilah strategy of tension: menciptakan ketegangan sosial agar penguasa tampak gagal, lalu muncul tuntutan mundur. Mirip resep warung kopi: bikin gaduh dulu, biar semua orang salah fokus.
Prabowo sadar itu. Ia bilang ada pihak-pihak yang memang ingin kerusuhan. Betul. Tapi rakyat juga tahu, chaos bukan hanya karya lawan politik. Aparat yang brutal pun ikut menyumbang. Chaos lahir bukan semata dari konspirasi, melainkan juga dari inkompetensi.
Gustav Le Bon dalam The Crowd (1895) menyebut massa mudah tersulut emosi dan kehilangan kendali individu. Tapi Le Bon lupa menambahkan: kadang yang lebih dulu kehilangan akal justru polisi di lapangan.









