Chaos Tiga Kali

oleh -187 views
Ahmadie Thaha/Ist

Dan percayalah, rakyat Indonesia bukan sekadar pion yang bisa diarahkan dengan teori konspirasi. Mereka tahu solidaritas, tahu kapan marah, kapan pulang. Yang mereka tidak tahu hanyalah: kapan negara ini benar-benar berpihak pada mereka.

Satirnya: kalau chaos memang skenario politik, rakyat hanyalah figuran. Tapi jika chaos lahir dari akumulasi kekecewaan, maka elite-lah yang sedang main sinetron murahan —sementara rakyat menanggung deritanya.

Walhasil, ketika Prabowo menyebut ada pihak yang ingin menciptakan chaos, publik bisa mengangguk. Betul, ada aktor politik yang berkepentingan. Tapi jangan lupa: chaos juga tumbuh alami dari luka sosial yang lama diabaikan.

Solidaritas ojol bukanlah operasi intelijen. Itu lahir dari empati. Namun bila aparat tetap brutal, luka itu akan jadi bahan bakar bagi siapa pun yang ingin menyalakan api lebih besar. Di titik ini, sebuah gerakan besar bisa segera terjadi, tinggal tunggu momentum tepat.

Pertanyaan pentingnya bukan hanya “siapa dalang chaos?” tetapi juga “kenapa negara terus-menerus menyiapkan bensin bagi api itu?” Elite politik boleh saja bermain skenario, tapi badai rakyat —kalau sudah lepas kendali— tak pernah bisa disutradarai.

Baca Juga  Diduga Belum Kantongi Izin Pemanfaatan Ruang Laut, Proyek Blackwater di Amasing Kota Barat Disorot

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 30/8/2025

No More Posts Available.

No more pages to load.