Chaos Tiga Kali

oleh -183 views
Ahmadie Thaha/Ist

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

“Chaos,” kata Presiden Prabowo, dengan intonasi berat ala jenderal yang sedang membayangkan strategi perang. Bedanya, kali ini ia tak bicara tentang palagan militer, melainkan tentang tewasnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online, yang dilindas mobil taktis polisi seberat 12 ton.

Saya hitung dari teks pernyataan Presiden Prabowo (29 Agustus 2025), kata “chaos” muncul tiga kali. “Ada unsur-unsur yang selalu ingin huru-hara, yang ingin chaos,” katanya usai kalimatnya menyampaikan belasungkawa mendalam atas Affan.

Lalu ia menegaskan, “hal tersebut tidak menguntungkan rakyat, tidak menguntungkan masyarakat, tidak menguntungkan bangsa kita.” Dan sekali lagi ia mengingatkan, “kita tidak boleh mengizinkan kelompok-kelompok yang ingin membuat huru-hara dan kerusuhan (chaos).”

Pengulangan kata “chaos” jelas bukan kebetulan linguistik, melainkan strategi retoris klasik: mengulang istilah kunci agar melekat di benak pendengar. Dalam kerangka Aristotelian, ini membangun pathos —membangkitkan emosi kolektif dengan menunjuk musuh eksternal. Chaos diposisikan sebagai ancaman, sekaligus tirai penutup bagi pertanyaan tentang kesalahan aparat.

Baca Juga  Golkar dan Kosgoro Maluku Gelar Nobar Piala Dunia di Kudamati, Ratusan Warga Pulang Bawa Sembako

Namun paradoksnya, semakin sering kata itu disebut, semakin kuat pula kesan bahwa negara memang sedang terjebak dalam pusaran ketidakstabilan. Alih-alih meredakan, mantra “chaos” justru berisiko memperkuat citra krisis.

No More Posts Available.

No more pages to load.