Ia memerintah nyaris setengah abad dengan sistim politik dan ekonomi yang berbaiat tanpa sungkan pada doktrin komunisme. Ia melawan Amerika dan rayuan kapitalisme seorang diri. Sembilan Presiden Amerika berganti tapi tak ada yang bisa menyingkirkan Castro sekuat apapun mereka berjuang dengan kebencian dan kesumat dendam. Castro jadi pemimpin ikonik. Ia mereformasi sistim agraria dan menasionalisasi semua aset milik asing. Ia tak pernah berhenti berjuang untuk Kuba. Castro tak pernah kalah. Ia tersingkir karena takdir yang menua.
Di tanah air yang sama, Che berbelok dan menepi dari kilau kekuasaan di pusat Havana. Semula Ia jadi wakil panglima militer, lalu ditunjuk jadi Menteri. Ia menerima karena ingin merealisasi mimpinya mensejahterakan rakyat. Che – legenda revolusi Amerika Latin kelahiran Argentina yang suka menulis, seorang ahli strategi perang, diplomat yang ulung dan juga dokter itu – adalah katalis utama kebangkitan pertanian Kuba dengan gula dan cerutu sebagai unggulan.
Saat bergerilya di pegunungan Sierra Maestra, Che kerap bertemu para petani yang miskin dan buta huruf karena tak bersekolah. Fasilitas kesehatan juga sangat buruk. Che meminta pasukannya membangun sekolah darurat untuk baca tulis. Ia juga mendirikan rumah sakit dengan fasilitas seadanya. Jika tak berperang, Che mengajarkan taktik militer. Di waktu yang luang, Ia mengajak rakyat mendirikan pabrik yang membuat oven untuk memanggang roti. Che juga menerbitkan surat kabar dan stasiun radio bawah tanah “Rebelde” sebagai media penyebar informasi dan propaganda perjuangan. Ia jadi comandante.








