Ada banyak orang hebat yang terlibat. Ada yang belakangan jadi bagian dari kekuasaan berwajah reformis. Tak sedikit yang jadi selebriti politik. Sistim berubah. Utopia mewabah. Namun ada satu sosok yang menjauh dari kerlip kekuasaan. Saya tak “menyamakan” dirinya dengan Che yang melegenda itu, tapi bagi saya dan banyak teman yang mengenalinya, dirinya adalah legenda.
Namanya Goenawan Mohamad. Para karib memanggilnya Mas Goen. Ia sosok yang puguh melintas jalan panjang Indonesia yang belum selesai. Di usia muda, Ia sudah menulis dan terlibat perdebatan-perdebatan sastra yang menakjubkan. Orang ramai mengenalnya sebagai penulis, pengarang, pelukis dan jurnalis yang rendah hati. Pemimpin media ternama yang menolak perintah dari mereka yang lalim. Ketika pertama kali datang ke Utan Kayu, netra saya hanya memandang sosoknya dari meja yang jauh. Ada “tembok tebal” bernama respek yang mengelilingi dirinya. Reputasinya tak luntur meski Indonesia terus berubah.
Tak banyak yang mengerti, Mas Goen adalah bagian dari begitu banyak undakan untuk memperbaiki Indonesia. Ketika orang mulai jengah dengan kepemimpinan nasional yang tak berganti dalam waktu yang lama, Ia jadi bagian dari yang menginginkan perubahan. Ia ada dan bergerak dalam yang “klandestin” itu. Di usianya yang sangat panjang, beberapa teman seperjuangan menceritakan “pengalaman” mereka berjuang bersama Mas Goen dua dekade lalu saat reformasi mengubah tampilan demokrasi Indonesia.








