Comandante

oleh -34 views
Link Banner

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pegiat Sosial

“Dalam revolusi salah satu pasti akan menang atau mati”.

3 Oktober 1965 yang muram, Fidel Castro membacakan sebuah surat perpisahan karibnya Ernesto “Che” Guevara di hadapan Komite Sentral Partai Komunis yang baru terbentuk. Ada kehilangan meski surat Che secara terbuka mengungkap dukungan dan kebanggaannya berjuang bersama Castro “memenangkan” hati rakyat Kuba. Castro dan Che pertama bertemu ketika Castro muda datang ke New York untuk menggalang dana bagi kebebasan Kuba dari sebuah rezim yang korup. Sebuah pertemuan yang menyatukan. Sejak itu dan terutama setelah pertemuan kali kedua di Meksiko, keduanya bahu membahu berjuang menyalakan api revolusi Kuba. “Patria o Muerte”, tanah air atau mati.

Plato menyebut, orang-orang dengan karakteristik, kegemaran dan sifat yang sama akan berkumpul dengan membentuk satu kumpulan atau kelompok. Namun yang berkumpul tak selamanya sejalan menikmati sukses bersama. Setelah perang gerilya, menerjang peluru dan gelegar bom, membangun jejaring bawah tanah, mendirikan radio pemberontak, menyerukan perlawanan rakyat terhadap diktator Baptista dan menyalakan api revolusi dengan pedestal marxisme – mereka menang dan Castro kemudian jadi pemimpin Kuba.

Ia memerintah nyaris setengah abad dengan sistim politik dan ekonomi yang berbaiat tanpa sungkan pada doktrin komunisme. Ia melawan Amerika dan rayuan kapitalisme seorang diri. Sembilan Presiden Amerika berganti tapi tak ada yang bisa menyingkirkan Castro sekuat apapun mereka berjuang dengan kebencian dan kesumat dendam. Castro jadi pemimpin ikonik. Ia mereformasi sistim agraria dan menasionalisasi semua aset milik asing. Ia tak pernah berhenti berjuang untuk Kuba. Castro tak pernah kalah. Ia tersingkir karena takdir yang menua.

Di tanah air yang sama, Che berbelok dan menepi dari kilau kekuasaan di pusat Havana. Semula Ia jadi wakil panglima militer, lalu ditunjuk jadi Menteri. Ia menerima karena ingin merealisasi mimpinya mensejahterakan rakyat. Che – legenda revolusi Amerika Latin kelahiran Argentina yang suka menulis, seorang ahli strategi perang, diplomat yang ulung dan juga dokter itu – adalah katalis utama kebangkitan pertanian Kuba dengan gula dan cerutu sebagai unggulan.

Baca Juga  Aziz Hentihu Minta Ada Limit Harga Tertinggi Untuk Rapid Tes Antigen

Saat bergerilya di pegunungan Sierra Maestra, Che kerap bertemu para petani yang miskin dan buta huruf karena tak bersekolah. Fasilitas kesehatan juga sangat buruk. Che meminta pasukannya membangun sekolah darurat untuk baca tulis. Ia juga mendirikan rumah sakit dengan fasilitas seadanya. Jika tak berperang, Che mengajarkan taktik militer. Di waktu yang luang, Ia mengajak rakyat mendirikan pabrik yang membuat oven untuk memanggang roti. Che juga menerbitkan surat kabar dan stasiun radio bawah tanah “Rebelde” sebagai media penyebar informasi dan propaganda perjuangan. Ia jadi comandante.

Radio “Rebelde”lah yang menyiarkan kemenangan pasukan Che saat merebut kota Santa Clara di malam tahun baru 1958. Siaran ini membungkam klaim Presiden Baptista yang dituliskan banyak media nasional jika Santa Clara tetap dikendalikan tentara dan Che tewas dalam pertempuran di sana. Jatuhnya Santa Clara di tangan pejuang revolusioner memaksa Presiden Baptista melarikan diri meninggalkan Havana. Ibukota kemudian dikuasai pasukan Che. Namun Ia memilih memberi panggung utama kepada Fidel Castro yang datang ke Havana sepekan kemudian.

Bagi Che, revolusi harus berujung pada keadilan. Menjadikan semua manusia sama dan sederajat. Karena itu, Ia memilih meninggalkan Kuba dan berkeliling mengobarkan revolusi di negara-negara yang masih terkungkung kediktatoran. “Jasa Marx adalah menghasilkan perubahan kualitatif secara mendadak di dalam sejarah pemikiran sosial. Ia menafsirkan sejarah, memahami dinamikanya dan memprediksi masa depan. Marx mengungkap sebuah konsep revolusioner ; dunia tak hanya ditafsirkan tapi harus diubah. Manusia tak lagi menjadi budak atau alat lingkungannya. Ia mengubah dirinya menjadi perancang takdirnya sendiri”. Begitu cara Che mendekap Marxisme yang Ia tulis dalam sebuah testimoni di Havana.

Yang menafsirkan sejarah, memahami dinamika dan memprediksi masa depan adalah sebuah thesa yang personal. Ia butuh comandante yang menggerakan. “Dunia tak hanya untuk ditafsirkan, tetapi juga harus diubah”. Tafsir terhadap “dunia” sejatinya telah dimulai beberapa tahun sebelum Indonesia mulai goyah dan beranjak genting di awal 1998. Yang harus “diubah” telah “ditetapkan”. Lahir dari diskusi-diskusi panjang yang tertutup. Ia tak bisa dilawan secara terbuka. Dan bergeraklah jejaring bawah tanah untuk memastikan yang “diubah” itu menjadi pasti.

Baca Juga  Tentang Kampung Tua

Orang ramai mencatat dalam ingatan yang timbul tenggelam jika reformasi Indonesia yang mengakhiri rezim Soeharto hanya berkelindan dengan demonstrasi mahasiswa. Tak banyak yang mengerti, jauh sebelum itu – sebelum penculikan dan penghilangan paksa banyak aktifis, sebelum suara-suara demokrasi dan kebebasan dicelotehkan dengan gemas karena terus dibungkam, sebelum gerakan untuk “membebaskan” meledak dimana-mana – “persiapan-persiapan” sudah dimatangkan. Pamflet dan selebaran dibagikan oleh kurir yang menyusup dengan metromini, melintasi pasar dan gang sempit. Tulisan-tulisan Tan Malaka yang membakar revolusi Indonesia dulu digandakan ulang dan jadi bacaan ideologis. “Pager” jadi media berbagi pesan dan perintah. Rapat-rapat rahasia selalu berpindah tempat. Semua serba “klandestin”.

Ada banyak orang hebat yang terlibat. Ada yang belakangan jadi bagian dari kekuasaan berwajah reformis. Tak sedikit yang jadi selebriti politik. Sistim berubah. Utopia mewabah. Namun ada satu sosok yang menjauh dari kerlip kekuasaan. Saya tak “menyamakan” dirinya dengan Che yang melegenda itu, tapi bagi saya dan banyak teman yang mengenalinya, dirinya adalah legenda.

Namanya Goenawan Mohamad. Para karib memanggilnya Mas Goen. Ia sosok yang puguh melintas jalan panjang Indonesia yang belum selesai. Di usia muda, Ia sudah menulis dan terlibat perdebatan-perdebatan sastra yang menakjubkan. Orang ramai mengenalnya sebagai penulis, pengarang, pelukis dan jurnalis yang rendah hati. Pemimpin media ternama yang menolak perintah dari mereka yang lalim. Ketika pertama kali datang ke Utan Kayu, netra saya hanya memandang sosoknya dari meja yang jauh. Ada “tembok tebal” bernama respek yang mengelilingi dirinya. Reputasinya tak luntur meski Indonesia terus berubah.

Tak banyak yang mengerti, Mas Goen adalah bagian dari begitu banyak undakan untuk memperbaiki Indonesia. Ketika orang mulai jengah dengan kepemimpinan nasional yang tak berganti dalam waktu yang lama, Ia jadi bagian dari yang menginginkan perubahan. Ia ada dan bergerak dalam yang “klandestin” itu. Di usianya yang sangat panjang, beberapa teman seperjuangan menceritakan “pengalaman” mereka berjuang bersama Mas Goen dua dekade lalu saat reformasi mengubah tampilan demokrasi Indonesia.

Baca Juga  Parlemen Israel Ketakutan dengan Resolusi Pendirian Negara Palestina

Saya mengikuti sebuah “seremoni” saat mereka bercerita. Apik sekaligus misterius. Catatan mereka makin menguatkan banyak testimoni sebelumnya bahwa sosok berjanggut lebat dengan topi rimba itu adalah salah satu kandil yang membakar api reformasi. Ia ada dimana-mana. Dalam penyamaran dan perlawanan bawah tanah, banyak aktifis yang tak saling jumpa. Tetapi semua aktifis itu mengaku jika mereka kerap bertemu Mas Goen yang datang di rapat-rapat rahasia, memberi semangat dan berbagi keyakinan. Di lapangan yang terus bergolak dalam senyap, Ia adalah “pemimpin”.

Setelah Soeharto lengser, Mas Goen memilih jalan yang sunyi. Jalan para penikmat seni yang hidup dengan karya untuk keabadian. Ia konsisten berjarak dengan kekuasaan. Ketika datang ke Ternate untuk promosi lakon “Den Kissot” bersama Teater Boneka di pelataran Benteng Orange, Mas Goen “memaksa” saya duduk menemaninya. Padahal di ujung kursi tamu, ada tempat untuknya tepat di samping Walikota Ternate. Ketika saya memberitahu tempat duduknya, Ia menolak pindah dan bergumam lirih, “Saya tak biasa duduk dekat pejabat”.

Sikapnya yang konsisten dalam berkarya dan membela kebenaran adalah bagian dari keteladanan yang semakin sulit di dapat saat ini. Kita masih butuh sosok “comandante” saat candu kekuasaan mulai meracuni logika dan akal sehat. Saat gagasan untuk mengkafirkan pilar-pilar reformasi yang banal mulai diapungkan dengan menambah waktu berkuasa Presiden. Kita tak boleh terperosok di lubang kesalahan yang sama. Tak peduli kedalaman lubang itu mungkin berbeda.

Santo Thomas – meminjam catatan Umberto Eco tentang Bahasa dan Kegilaan – dalam “Quaestio quodlibet alis” mengapungkan sebuah pertanyaan sumir. Mana yang lebih kuat, lebih meyakinkan dan lebih membatasi : kekuasaan raja, pengaruh anggur, pesona wanita atau kekuatan kebenaran. Jawaban Aquinas halus dan fasih. Raja, anggur, wanita dan kebenaran tak dapat dibandingkan karena “non sunt unius generis”. Mereka bukan dari kategori yang sama. Meski demikian, kekuatan jasmani kita sesungguhnya bergantung pada kekuatan hewani dan kekuatan hewani ada pada akal, Jika menggunakan akal, kebenaran akan lebih kuat dari apapun. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.