Dari Mulyono ke Mulyadi: Negeri yang Memilih Popularitas

oleh -2 Dilihat

Maka kita perlu membedakan antara dikenal dan dikenal karena kemampuan. Keduanya tampak serupa, tetapi sesungguhnya sangat berbeda. Seseorang bisa sangat populer tanpa pernah menunjukkan prestasi yang sebanding dengan tingkat kepopulerannya. Sebaliknya, seseorang yang bekerja dalam diam bisa memiliki kemampuan besar tetapi tidak cukup dikenal untuk masuk ke dalam radar elektoral.

Fenomena itu menjadi semakin problematis ketika media ikut larut dalam logika angka. Rilis survei tentang siapa yang berada di posisi teratas diberitakan seolah-olah merupakan kabar tentang sebuah kemenangan. Padahal survei hanyalah potret pada suatu waktu, bukan surat mandat dari rakyat. Namun ketika potret itu dipajang berulang-ulang, ia dapat berubah menjadi ramalan yang berusaha mewujudkan dirinya sendiri.

Baca Juga  60 Ret Material Diduga Keluar dari Wai Riuwapa ke Cafe Dahlia, Rantai Transaksi Galian C Mulai Terkuak

Kita melihat nama Dedi Mulyadi, misalnya, berada di posisi teratas dalam sejumlah survei politik. Fenomena itu tentu sah untuk dibaca sebagai tanda tingginya popularitas. Tetapi ada persoalan yang tak kalah penting: apakah popularitas itu dengan sendirinya membuktikan kapasitas untuk memimpin sebuah negara yang demikian besar dan rumit?

Pertanyaan itu bukan untuk merendahkan siapa pun. Justru sebaliknya, ia adalah pertanyaan yang harus diajukan kepada setiap calon pemimpin. Sebab memimpin Indonesia bukan sekadar memenangkan perhatian publik. Memimpin adalah kemampuan membaca persoalan, mengambil keputusan yang sulit, memahami dunia yang berubah, mengelola kekuasaan, dan mempertanggungjawabkan akibat dari setiap keputusan.

No More Posts Available.

No more pages to load.