Dari Mulyono ke Mulyadi: Negeri yang Memilih Popularitas

oleh -2 Dilihat

Theodore M. Porter, dalam Trust in Numbers, menunjukkan bagaimana angka memperoleh kewibawaan karena dianggap lebih objektif, impersonal, dan dapat dipercaya daripada penilaian manusia.

Persoalannya muncul ketika angka tidak lagi sekadar menggambarkan kenyataan, tetapi ikut menciptakannya. Ketika sebuah nama terus ditempatkan di urutan teratas, media mengangkatnya sebagai berita, publik membacanya sebagai pencapaian, dan lembaga-lembaga lain kembali mengukurnya. Terjadilah lingkaran yang nyaris sempurna: popularitas menghasilkan angka, angka menguatkan popularitas, dan popularitas kembali menghasilkan angka.

Dalam keadaan seperti itu, pertanyaan yang mestinya sederhana menjadi penting: siapa sebenarnya yang sedang memilih siapa? Publikkah yang memilih tokoh, atau tokoh yang lebih dahulu dipilihkan untuk publik?

Baca Juga  4 Zodiak yang Beruntung di Bulan September 2026, Bawa Energi Positif!

Di sinilah persoalan menjadi lebih rumit. Popularitas tidak selalu tumbuh secara alamiah, seperti bunga liar yang tiba-tiba mekar di pinggir jalan. Ia bisa dirawat, disiram, diberi pupuk, bahkan ditempatkan di tanah yang paling subur: media. Seorang tokoh yang terus-menerus memperoleh ruang pemberitaan, tampil dalam berbagai panggung, dan hadir dalam percakapan publik, pada akhirnya akan terasa akrab. Dan sesuatu yang akrab sering kali dianggap baik, meski belum tentu benar-benar baik.

No More Posts Available.

No more pages to load.