Porostimur.com, Ambon – Api kembali menjalar di sejumlah wilayah Maluku. Lahan masyarakat dan kawasan hutan terbakar, sementara warga di beberapa daerah masih berjibaku memadamkan kobaran dengan kemampuan yang mereka miliki.
Di tengah kemarau panjang yang membuat vegetasi mengering dan mudah terbakar, pertanyaan pun mengemuka: haruskah hutan dan lahan terbakar lebih luas terlebih dahulu sebelum pemerintah bergerak?
Pertanyaan itu disampaikan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon yang mempertanyakan kesiapsiagaan Pemerintah Provinsi Maluku menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ketua Cabang GMKI Ambon, Renno L. Z. Patty, S.I.Kom., menilai karhutla yang berulang di sejumlah wilayah Maluku harus menjadi evaluasi serius terhadap sistem pencegahan maupun respons pemerintah daerah.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh menunggu kebakaran meluas, mendekati permukiman, atau mengancam keselamatan masyarakat baru kemudian mengambil tindakan.
“Ini bukan lagi soal satu atau dua titik kebakaran. Ketika kebakaran terjadi berulang di sejumlah wilayah Maluku, pemerintah harus berani mengevaluasi dirinya sendiri. Apakah sistem pencegahan kita gagal? Apakah respons kita terlambat? Atau memang pemerintah belum memiliki strategi yang serius menghadapi karhutla?” tegas Renno kepada Porostimur.com, Senin (31/8/2026), saat ditemui di Student Centre GMKI Ambon.






