Data Besar, Nasib Berceceran

oleh -57 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Di Amerika, data sudah seperti ladang minyak baru. Bedanya, kalau minyak harus dibor ke perut bumi, data tinggal dibor ke kebiasaan manusia.

Orang batuk dicatat. Orang marah dianalisis. Orang belanja diamati. Orang insomnia dipetakan. Bahkan orang yang tiap malam stalking mantan pun, diam-diam sedang menyumbang miliaran dolar ke industri kecerdasan buatan.

Sementara di negeri kita, data masih diperlakukan seperti sandal jepit di depan masjid: berserakan, tercecer, kadang hilang sebelah. Elon Musk, manusia yang kalau ngomong kadang seperti nabi teknologi, kadang seperti admin grup WA yang baru putus cinta.

Tiga bulan lalu ia masih menyebut Anthropic sebagai perusahaan “jahat”, “misanthropic”, bahkan pembenci peradaban Barat.

Baca Juga  Bupati Mimika Ajak Warga Maluku Jaga Persaudaraan di HUT Pattimura ke-209

Tapi dunia AI memang dunia yang lebih cepat berubah daripada janji kampanye. Minggu ini, Musk justru menyewakan superkomputer raksasanya kepada Anthropic dengan nilai bisnis sekitar tiga sampai empat miliar dolar per tahun.

Luar biasa. Kemarin musuhan. Hari ini mengontrakkan server, infrastruktur data akbar. Beginilah kapitalisme digital bekerja. Tak ada musuh abadi. Yang abadi hanyalah tagihan listrik data center.

Yang menarik bukan sekadar Musk berubah pikiran. Yang menarik adalah arah perubahan itu. Dulu orang berebut membuat model AI paling pintar. Sekarang orang mulai sadar: yang paling berkuasa bukan cuma pembuat AI, melainkan pemilik infrastruktur data.

No More Posts Available.

No more pages to load.