Demokrasi di Bawah Intimidasi Premanisme

oleh -655 views
Ansori

Dalam polemik tersebut, terdapat mereka yang tetap mempertahankan keyakinan dan analisisnya, seperti Roy Suryo dan dr Tifa, yang memilih terus menyuarakan pandangan mereka meskipun harus menghadapi berbagai tekanan dan risiko sosial. Bagi mereka, mempertahankan keyakinan terhadap apa yang dianggap sebagai kebenaran merupakan bentuk tanggung jawab moral kepada publik.

Namun di sisi lain, terdapat pula contoh sikap yang berbeda. Tokoh seperti Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis pernah mengambil posisi kritis terhadap isu tersebut. Dinamika yang terjadi kemudian memperlihatkan bagaimana tekanan politik dan sosial dapat memengaruhi sikap seseorang dalam ruang publik. Contoh yang paling mencolok adalah ketika Rismon Hasiholan Sianipar memilih meminta maaf dan mengambil jarak dari posisi sebelumnya.

Baca Juga  Robert Sapulette Terpilih Jadi Sekda Definitif Kota Ambon

Dalam demokrasi, perubahan sikap tentu bukan sesuatu yang salah. Namun pertanyaan reflektif yang patut diajukan adalah: apakah perubahan tersebut lahir dari proses rasional dan bukti baru, atau justru dari tekanan yang tidak terlihat? Jika perubahan sikap terjadi karena intimidasi atau ketakutan, maka itu bukan lagi dinamika demokrasi yang sehat, melainkan tanda bahwa ruang kebebasan sedang menyempit.

No More Posts Available.

No more pages to load.