Beras mahal di negara agraris
Miris melihat harga sekarung beras isi 50 kilogram berharga Rp 1 juta di Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Limapagi.id, 28 Februari 2024).
Demikian juga dengan video viral dari Tanggamus, Lampung ketika seorang nenek dengan tangan yang gemetar hanya bisa memakan sayur daun singkong karena mahalnya harga beras.
Antrean para pembeli beras yang mengular panjang di berbagai pelosok Tanah Air mengingatkan saya akan bencana kelaparan di Ethiopia.
Rakyat miskin di benua Afrika itu menunggu jatah makan gratis, sementara rakyat kita rela berjam-jam demi mendapatkan harga beras yang terjangkau.
Media ini begitu satir mengisahkan kiat pedagang lontong yang bernama Yuyun (42), warga Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta untuk menyiasati naiknya harga beras. Mengingat harga beras terus melambung tinggi, Yuyun kebingungan untuk mematok harga jual lontongnya.
Jika harga lontong dinaikkkan, maka dirinya khawatir lontong dagangannya akan tidak laku. Jika harga lontong tidak dinaikkan maka cara yang dipilihnya adalah mengecilkan ukuran lontongnya hingga mengkerut seperti ukuran makanan ringan bernama “momogi” (Kompas.com, 26/02/2024).
“Kita rakyat kecil, tolonglah diperhatikan, Masak mau begini terus, sudah mau puasa lagi. Yang bener saja? Rugi donk.” – Yuyun, warga Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta.










