JALAN-JALAN BERSAMA BAYANG-BAYANG
aku dan bayang-bayang menyusuri jalan-jalan kampus
siang itu ramai dipadati ribuan dedaunan yang tak bisa digubarkan oleh tukang sapu
jalan-jalan basah, menangis, meratapi kematian hujan
yang datang malam itu, mati sebelum melihat matahari terbit
aku dan bayang-bayang bertanya dalam-dalam
pada kampus yang hampir mati
pada pujasera yang hampir kadaluwarsa
pada ruang-ruang kuliah yang hampir berkarat
pada bangku-bangku yang hampir lapuk
kapan kita kembali mengawinkan senyum?
dari jendela kampus yang tak bisa lagi bercermin saat siang datang
ada suara yang menyelinap masuk ke lorong telingaku sambil berkata
“kita akan kembali seperti dahulu setelah badai ini pergi”
ku arahkan mata ini ke arah datangnya suara itu
ternyata itu suara papan tulis yang bersandar di dinding putih di samping meja dosen
dengan tubuh bekas coretan dosen sebelum badai itu datang
aku dan bayang-bayang menempelkan telapak tangan ke wajah
mengaminkan doa si papan tulis itu
hingga ahad ini,
hari-hari di kalender hampir habis
pulsa-pulsa di gawai hampir habis
badai pun tak kunjung habis
ia dengan terpaksa menjerat aku dan bayang-bayang di rumah ayah
lalu menghabiskan uang ayah untuk tetap belajar dari rumah
Ambon, 29 November 2020
=========









