Dolar Kabur, Mafia Makmur

oleh -73 views

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Kadang sebuah negara tidak runtuh oleh perang. Tidak juga oleh bom. Tapi oleh invoice. Oleh angka kecil yang sengaja dikecilkan. Oleh harga sawit yang dibuat kurus ketika keluar dari pelabuhan Indonesia, lalu mendadak gemuk ketika tiba di Amerika.

Barangnya sama. Kapalnya sama. Lautnya sama. Tapi begitu melewati Singapura, harganya gemuk berlipat-lipat seperti habis minum susu dinosaurus.

Purbaya Yudhi Sadewa tampaknya sedang membuka pintu gudang paling gelap republik ini. Gudang yang selama puluhan tahun mungkin lebih sunyi daripada ruang meditasi para pertapa Himalaya. Bedanya, di gudang ini bukan dupa yang dibakar, melainkan devisa negara.

Bayangkan. Sawit dari Indonesia dicatat Rp2.600 per kilogram. Sampai Amerika berubah jadi Rp4.200. Ada lagi yang lebih ajaib. Dari sini dicatat Rp1.000, di sana tiba-tiba Rp4.400. Kalau rakyat kecil melakukan sulap begini di pasar tradisional, mungkin sudah dituduh pakai ilmu hitam kiriman jin finance internasional.

Baca Juga  Operasional Rumah Kemasan Ambon Terkendala Pencurian, Disperindag Tunggu Pemulihan Anggaran

Dan yang lebih membuat jidat rakyat berkedut adalah kalimat Purbaya sendiri: “10 besar semuanya seperti itu.”

Semuanya. Semuanya adalah sepuluh perusahaan sawit.

Kalimat itu pendek. Tapi efeknya seperti petir menyambar gardu listrik nasional. Karena itu berarti ini bukan ulah tikus kantor.

No More Posts Available.

No more pages to load.