Dua Putaran?

oleh -49 views
Made Supriatma

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

SAYA kira, satu putaran itu cuma obsesinya Pak Budi. Kalau itu terjadi maka akan mengkonfirmasi bahwa dia kuat. Juga dia akan punya kekuatan untuk menghadapi Mbah Wowo nantinya.

Diam-diam, Mbah Wowo dan orang-orangnya lebih suka dua putaran. Mengapa? Karena kalau satu putaran, Pak Budi bisa omong, “Kowe ini dadi presiden karena saya! Kalau bukan karena kekuatan dan popularitas saya, kowe nggak akan jadi apa-apa. Wong kowe lawan saya aja kalah kok!” Begitu kira-kira.

Kalau menang dua putaran, Mbah Wowo akan bisa bilang, “Sorry ye! Ini saya menang karena usaha sendiri. Anda boleh berkuasa dan sangat populer, Pak Budi. Tapi itu nggak ngaruh sama pemilih. Kalau saja saya tidak berjuang habis-habisan ya nggak menang.”

Jadi kalau menang satu putaran langsung, Pak Budi bisa pasang anaknya, Mas Gibas, di posisi yang lebih kuat. Rencana untuk memberikan dia portofolio mengurus wilayah Jakarta dan sekitarnya akan mulus. Ingat, ini adalah wilayah dimana 60% lebih ekonomi negeri ini bergerak. Luar biasa besar bukan?

Sebenarnya rencana ini masih ada pelengkapnya. Masih ingat partai kecil ganteng dan cantik yang diakuisisi Pak Budi dan kemudian langsung dipimpin CEO baru, yakni anak bungsu Pak Budi? Nah, partai ini diusahakan akan kuat di Jakarta. Untuk apa? Ya untuk membentengi Gibas lahhhh …

Kalo saya membacanya, walaupun semangat 45 bangun IKN, matanya Pak Budi itu ada di Jakarta. Ini yang bisa jadi come back untuk terus berkuasa dan punya pengaruh.

Situasi inilah yang bikin Pak Budi sangat ingin pemilu cepat selesai. Kalau itu terjadi, posisi dia sangat kuat. Tambah lagi kondisi fisik Mbah Wowo yang gak begitu prima.

Baca Juga  KPK Dalami Obral Izin Tambang Gubernur Maluku Utara Lewat Anak Buah Bahlil di BKPM

Jadi, lihat baik-baik ya. Jakarta akan jadi launching pad atau batu lompatan untuk Pak Budi. Kalau memang satu putaran, Pak Budi bisa mendorong ide yang disukai oleh Mbah Wowo: pemilu itu mahal, jadi kepala daerah dipilih oleh DPRD saja. Nanti presiden juga dipilih oleh DPR saja.

Nah, ini juga akan ada pelintirannya. Nanti anak bungsu Pak Budi bisa melenggang jadi Gubernur. Apalagi kalau partai kecil ganteng cantik itu dapat suara lumayan di DPRD Jakarta.

Itu bisa saja terjadi. Iya kan?

Nah, bagaimana kalau sampai putaran kedua? Saya menilai bahwa posisi Pak Budi akan lemah kalau sampai ke putaran kedua. Itu adalah statemen bahwa pengaruhnya tidak berarti secara elektoral.

Baca Juga  5 Caleg Suara Terbanyak se-Indonesia: Brigitta Lasut Salip Puan Maharani

Tapi kalau pun menang di putaran kedua, dia masih bisa ‘cawe-cawe’ karena ada anaknya di sana. Walau tidak sekuat kalau pilpres berlangsung satu putaran.

Kalau kalah? Nah ini sulit. Pak Budi ini spekulan pedagang yang baik. Taruhan harus gede kalau mau untung gede. Kalau kalah, ya habis beneran.

Ngoten njih, khotbah kula ing dina Minggu sing adem niki! (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.