Dalam paparannya, ia mengangkat sejumlah persoalan, mulai dari Maluku sebagai tanah yang kaya dan memiliki sejarah panjang perjumpaan budaya, hubungan antara globalisasi dan nasionalisme, hingga kritik terhadap ketimpangan pembangunan dan kondisi sosial-politik Indonesia.
Dari seluruh pokok bahasan itu, Eko menyoroti dua persoalan utama: posisi Maluku dalam hubungan dengan republik dan penyakit sosial-politik yang menurutnya menggerogoti kehidupan berbangsa.
Maluku Cinta NKRI, tetapi Merasa Tidak Dicintai
Eko mengawali kritiknya dengan mengingatkan bahwa masyarakat Maluku telah turut mengambil bagian dalam perjalanan sejarah Indonesia. Menurutnya, kecintaan dan kesetiaan masyarakat Maluku terhadap republik telah diwujudkan melalui perjuangan, pengorbanan, serta kontribusi dalam berbagai bidang.
Namun, ia menilai hubungan tersebut tidak berbalas secara setara ketika berhadapan dengan kebijakan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam.
“Maluku cinta NKRI, tapi NKRI tidak cinta Maluku,” ungkapnya.
Eko mencontohkan pengelolaan kekayaan alam Maluku, termasuk eksploitasi hutan di pulau-pulau kecil oleh perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan serta pemanfaatan hasil laut untuk kepentingan ekonomi nasional. Menurutnya, kekayaan tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat yang hidup di wilayah penghasil sumber daya.











