oleh

Film “My Name Is Khan” Menghapus Stigma Terorisme pada Islam

Link Banner

Penulis: Yeyen Hendarti Darmawan
Mahasiswa Pascasarjana ISI Padang Panjang

Film My Name Is Khan, produksi Bollywood mengisahkan intimidasi, stigma negatif, dan perlakuan diskriminatif yang ditujukan kepada umat muslim. Perlakuan begini sudah sering terjadi di berbagai negara, terutama di negara yang mayoritas rakyatnya nonmuslim, terlebih lagi setelah Tregedi World Trade Center pada 9 September 2001 di di New York City dan Washington, D.C. Amerika Serikat.

Kendati My Name Is Khan bukan film pertama yang mengangkat tema begini tapi cerita yang diangkat sangat menohok masyarakat dunia. Film yang diluncurkan pada 2010 yang disutradarai Karan Jonar merupakan salah satu film yang tidak asing lagi  bagi masyarakat Indonesia karena pernah ditayangkan di televisi untuk mengisi waktu libur, khususnya saat liburan  Idulfitri atau Iduladha.

Film My Name Is Khan menjadi salah satu film yang berpenharuh dan mampu menohok masyarakat dunia. Selain itu, film ini juga menjadi salah satu representasi tentang bagaimana realitas yang terjadi di masyarakat dunia dalam melihat dan menilai keberadaan imigran dan perbedaan agama.

Acap terdengar terjadinya penyerangan mematikan di berbagai negara bahkan di Indonesia, namun sangat disayangkan masyarakat dunia memandang pelaku terorisisme itu adalah umat muslim, sekaligus pandangan global ini memperlakukan umat muslim secara diskriminatif.  

Sama halnya yang terjadi di Daerah Otonomi Otoritas Xinjiang Republik Rakyat Tiongko yang mengintimidasi muslim suku Suku Uighur sebagai saparatis dan menuduh suku Uighur sebagai bagian dari Al Qaeda dan mengklaim mereka telah mendapatkan pelatihan di Afghanistan. Bukti yang sangat minim turut dihadirkan bersama klaim ini. Sesunguhnya pandangan tersebut belum tentu benar adanya.

Baca Juga  Ketua Aliansi Indonesia Apresiasi Bupati Halsel

Pada film My Name Is Khan ini memberikan pesan untuk mengajak masyarakat dunia khususnya Amerika Serikat untuk tidak menjudge bahwa setiap muslim adalah teroris dan tidak pantas mendapatkan perlakuan yang diskriminatif.  

Selain berusaha menghapus mindset negatif tersebut, film ini juga sedikit menyindir bahwa dunia Islam seharusnya dunia yang damai dan penuh dengan kasih sayang karena ajaran Islam itu sangatlah humanistik. Peristiwa teroris bukanlah ajaran Islam. Film ini menampar dunia Barat karena berhasil menunjukan bahwa Islam bukan teroris. Nilai-nilai Islam itu dengan karakter kuat dan mampu ditunjukan Sakhruh Khan, pameran utama, yang berperan sebagai Rizvan Khan.

Film yang diproduksi Dharma Production dan Red Chillies Entertainment menceritakan tentang seorang pemuda imigran muslim bernama Rizvan Khan. Ia datang dan tinggal di San Fransisco dan menetap bersama adiknya Zakir (Jimmy Shergill) yang telah menikah dengan Haseena (Sonya Jehan) setelah kematian ibu mereka Razia Khan (Zerina Wahab).

Rizvan Khan terkena sindrom asperger dari sejak lahir. Dalam batasan sederhana, sindrom asperger merupakan gangguan neurologis atau saraf yang tegolong ke dalam gangguan spektrum autisme.  Umumnya, penderita sindrom asperger sosok yang cerdas dan mahir dalam bahasa. Penderita sindrom asperger  biasanya tampak canggung saat berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Rizvan Khan diketahu menderita sindrom asperger setelah ia datang ke San Fransisco.

Rizvan bekerja di perusahaan Zakir sehingga menjadi proses pertemuannya dengan Mandira (Kajol) seorang wanita Hindu yang memiliki anak Sameer (Yuvaan Makaar) dari pernikahan sebelumnya. Rizvan menikahi Mandira meskipun mereka berbeda agama namun tidak mengubah hal apapun termasuk keyakinan Rizvan ataupun Mandira. Tetapi Mandira dan Sameer mengambil nama belakang Rizvan Khan sebagai nama belakang mereka.

Baca Juga  BMKG: Gempa M 5.6 Guncang Bolmong Sulut Malam Ini, Tidak Berpotensi Tsunami

Keberadaan keluarga Khan terganggu setelah terjadinya Tragegi WTC 11/9. Warga Amerika memperlakukan secara sosial penuh dengan diskriminatif. Seluruh umat Islam menjadi sasaran tindakan intimidasi dari warga nonmuslim di Amerika Serikat. Sameer menjadi salah satu korban atas tindakan perkelahian yang bermotif rasial tersebut sehingga menyebabkan Sameer meninggal dunia.

Kejadian tersebut sangat menghancurkan hati Mandira dan menyalahkan pernikahannya dengan Rizvan sebagai penyebabnya. Mandira mengatakan bahwa Sameer dibunuh kerena bernama Khan.

Saat itu juga Mandira meminta berpisah dan menyuruh Rizvan untuk pergi. Namun Rizvan bertanya kapan dia harus kembali, Mandira mengatakan, Rizvan boleh kembali setelah dia memberitahu orang-orang Amerika Serikat dan Presiden bahwa: “Nama saya Khan dan saya bukan teroris.”

Rizvan menanggapi permintaan Mandira dengan serius dan menjalankan misinya menjelajahi Amerika Serikat untuk bertemu dengan Presiden George W. Bush. Perjalanan yang dilalui Rizvan tidaklah mudah karena suasana yang masih panas pascatragedi WTC 9/11 dan Rizvan Khan adalah umat muslim yang memiliki misi yang sangat sensitif sehingga terjadi kesalahpahaman saat dia berteriak: Nama saya Khan dan saya bukan teroris” saat bertemu dengan Presiden AS.

Konflik Islam dan Barat diolah melalui kelakuan si tokoh utama. Rizvan Khan mempunyai keuntungan sebagai seorang yang mengidap autisme karena keterbelakangannya tersebut, Rizvan agak lambat merespons tindakan dari orang-orang yang disekitarnya dan karena itu dia mempunyai prasangka tertentu dan terus bergerak dan melakukan sesuatu yang memang menjadi tujuannya tanpa mempedulikan kondisi sekitar.

Baca Juga  Akankah Partai Gelora Layu Sebelum Berkembang?

Walaupun kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif oleh warga nonmuslim namun Rizvan tetap berperilaku baik karena memang itulah sebenarnya yang diajarkan dalam Islam. Islam mengajarkan  hubungan yang baik, damai, dan penuh kasih sayang terhadap semua manusia. Memang sudah seharusnya kita manusia bisa memanusiakan manusia lainnya tanpa membawa-bawa unsur suku, ras, warna kulit ataupun agama.

Hubungan antara Islam dan Barat memang tidak pernah stabil. Selalu ada pertengkaran dan tindakan saling serang, baik oleh pemerintahnya ataupun warga negara yang bertindak atas nama agama tertentu.

Lewat film My Name Is Khan, Rizvan Khan mencoba menjelaskan bahwa agama Islam bukanlah agama yang mengedepankan kekerasan, bukan pula sebuah agama yang mengajarkan penganutnya untuk menjadi teroris, namun sebuah agama yang mengajarkan kebaikan sama seperti ajaran kebikan pada agama lainnya dan mengedepankan rasa damai dan kasih sayang.

Banyak sisi positif yang kita ambil dari perilaku Rizvan Khan yang menyuarakan bahwa Islam bukanlah agama yang berbahaya dan juga bukan agama teroris sehingga tidak pantas mendapatkan sikap diskriminatif meski berada di negara yang bermayoritas nonmuslim.

Melihat kondisi intimidasi umat muslim di Uighur dan Palestina hari ini, mungkinkah akan ada Rizvan Khan versi Uighur atau negara lain bahkan Indonesia yang bermayoritas muslim untuk menyuarakan kembali hal tersebut agar dunia tahu bahwa Islam agama kedamaian. Wallahualam. (*)

Sumber: sumbarsatu.com

Link Banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed