Cerpen Karya: Linda Kartika Sari
Aku duduk di salah satu kursi tunggu stasiun, menatap sekumpulan manusia yang hilir mudik berjalan. Suara penyiar radio terdengar nyaring pada speaker yang terletak tidak jauh dari tempatku duduk, lagu berjudul Dealova terputar dengan apiknya. Sesekali aku melirik jam di pergelangan tangan, memastikan jika orang yang kutunggu memang belum waktunya datang. Mataku menatap lurus ke depan, saat kereta melintas menjauhi stasiun, hujan deras disertai petir begitu lebat terdengar, tanpa sadar aku sudah bergemul dengan jaket tebalku sendiri. Menutupi wajahku dari cahaya kilatan. Aku takut petir.
Saat membuka mata, yang aku rasakan adalah kehangatan yang mengungkung tubuhku. Ternyata lelaki itu ada di sini, duduk di dekatku dengan sorot matanya yang tajam namun menenangkan, bola mata warna cokelat itu masih memandangku dengan tatapan yang sama dengan lima tahun silam. Lihatlah, kini dia tersenyum, manis sekali; memperlihatkan lesung di pipinya. Jantungku berdebar tak keruan saat dia mencoba merapikan anak rambutku yang sedikit berantakan.
“Lalaku tetap cantik seperti biasa,” lirihnya.
Fragmen putih abu-abu itu menguap. Menarikku kepada kejadian 5 tahun silam, tepat saat aku mengenal laki-laki yang kini merangkum wajahku dengan telapak tangannya yang sedingin es batu.











