Banyak pertanyaan yang muncul di benak kedua penulis. Mengapa tak satupun elite di daerah yang memperkirakan kegagalan ini? Apakah krisis ini terutama dibawah oleh sesuatu yang ada di daerah, atau justru berasal dari luar? Seperti apa, masa-masa sebelumnya yang membawa benih-benih terjadinya daerah gagal? Ataukah ini semacam interupsi – yang mengingatkan kita akan berakhirnya suatu era kekuasaan?
Setidaknya ada pelajaran yang dapat dipetik dari ramalan ini; bahwa ekonomi politik yang esktraktif akan menuju kehancuran dan berakhir dengan sedih, meski dibungkus dengan dalil pembangunan.
Mulai dari debat calon Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota selalu diimbuhi perdebatan dan janji menghapus ketimpangan. Dan ukuran yang dianggap paling inklusif adalah Indeks Gini. Bahkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah saat ini secara eksplisit memuat target bagaimana mengakomodasi dinamika pendapatan dalam masyarakat secara akurat. Tapi, benarkah sesederhana itu akar penyebabnya?
Fakta menyebutkan, dari observasi Acemoglu dan Robinson, “bahwa institusi politik-ekonomi suatu negaralah (daerah) yang menjadi penentu. Negara atau daerah yang institusi politik-ekonominya bersifat inklusif, cenderung berpotensi untuk menjadi negara kaya.




