Tidore, Ternate, Bacan, Ambon dan Banda adalah gugusan kepulauan yang juga disinggung Acemoglu dan Robinson sebagai kawasan ekstraktif rempah dan genosida. Berbagai institusi ekstraktif yang diciptakan Belanda telah turut melahirkan keterbelakangan bangsa Maluku dan Maluku Utara hingga saat ini, (lihat Bab 9, Pertumbuhan yang Pupus di Tengah Jalan, hal 283-289).
Acemoglu dan Robinson menulis : “…Countries become failed states not because of their geography or their culture, but because of the legacy of extractive institutions, which concentrate power and wealth in the hands of those controlling the state, opening the way for unrest, strife, and civil war” (Negara menjadi gagal tidak disebabkan karena geografi dan kebudayaan, akan tetapi karena warisan institusi ekstraktif yang memusatkan kekuasaan dan kekayaan pada tangan kelompok elit penguasa yang memicu keresahan pemberontakan , dan perang saudara” (Hal.376).
Di daerah euforia dan ekspektasi politik kita tidak menjadi brain-drain intelektual, tapi justru menjadi anti-demokrasi. Kita menyaksikan elite-elite di daerah bak raja yang menguatkan kekuasaannya sekedar untuk kepentingan jangka pendek.
Daerah berada dalam sebuah krisis yang sangat kritis – di mana tabiat penguasa-penguasanya cenderung mengekslusi kebijakan ekonomi ke kepentingan institusi ekstraktif.




