Menariknya, gubernur mengatakan surfing di Desa Latu bukanlah sekadar olahraga modern, tetapi ini adalah bagian dari tradisi turun-temurun yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat pesisir.
“Anak-anak remaja Desa Latu telah terbiasa menari di atas ombak dengan menggunakan laat-alat sederhana, yang merupakan perwujudan kearifan lokal, hubungan harmonis dengan alam, dan semangat hidup masyarakat pesisir,” ungkap Lewerissa.
Fenomena ini ujar gubernur, membuktikan bahwa surfing di Desa Latu bukanlah seutuhnya budaya yang diimpor, melainkan telah menjadi identitas lokal masyarakat pesisir.
Lebih lanjut, Gubernur mengatakan ini adalah kesempatan emas untuk melestarikan kearifan lokal dan memperkenalkannya kepada dunia luar, menjadi media edukasi dan pemberdayaan pemuda desa, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan laut.
“Turnamen surfing Lawe Kokohu ini akan diisi dengan berbagai proyek edukatif yang sangat relevan dan inovatif seperti, selancar dan sains laut, surfpreneur atau bisnis ramai pantai, kampanye pantai aman dan sehat, papan selancar inovatif dari limbah lokal dan cerita ombak (surfing dalam lensa budaya) dalam rangka menggali dan mendokumentasikan nilai-nilai budaya di balik tradisi surfing,” tambahnya.









