“Politik uang ini, ada sejak abad 20 dibawa oleh penjajah Belanda untuk merusak mental penduduk jajahan di nusataran. Jadi kalau saat ini ada kandidat yang pakai uang sebagai alat untuk memenangkan pertarungan di pilkada, maka dia adalah penjajah,” tegasnya.
Politik uang ini, kata Basri, juga menjadi penyakit yang mengerikan. Dia susah sekali diagnosis bakteri berasal dari mana.
“Bakteri yang sadis ini, bukan hanya merusak pilihan orang, tetapi juga merusak saraf kecerdasan manusia. Dia juga merusak pankreas, hati, saraf penglihatan, penciuman, dan rasa. Lalu kita membiarkan penyakit ini terus-menerus menular, itu tidak mungkin,” tukasnya.
Basri salama menegaskan, sebagai orang yang mengambil bagian dalam kompitisi ini, dirinya meminta ketegasan dari penyelenggara. Apakah yang disebut suap-menyuap untuk mempengaruhi pikiran orang itu dilakukan dengan menggunakan uang ataukah sembako.
“Ataukah uang digantikan dengan beras, gula, dan minyak kelapa. Kalaupun minyak kelapa dan beras tidak disebut sebagai uang, maka persilahkan keempat pasangan ini ramai-ramai beli beras di gudang sana, untuk dibagi-bagikan kepada pemilih agar adil. Sebab hal itu, telah terjadi di Halmahera pada beberapa hari lalu,” ujarnya.









