“Apa yang saya lakukan tidak semata-mata mengedepan ego, namun selaku bupati saya menggandeng para raja, tokoh agama dan pemerintah untuk tetap bersinergi,” sambungnya
Hanubun mengilustrasikan ketiga pihak ini ibarat tungku, jika bersatu maka dengan mudah memasak, namun jika salah satu saja pincang maka wajan atau belanga sulit untuk ditempatkan pada posisinya. “Begitu pula saya, jika tidak menggandeng salah satu, maka terlihat kaku,” ujarnya.
Kehadiran Hanubun di Kecamatan Kei Besar didampingi Raja Danar, Raja Maur dan Raja Nero, serta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup Pemda Malra.
Pada kesempatan tersebut, Hunubun juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan kehendak yang belum tentu benar.
“Bupati tidak berbohong dan tidak mungkin sempurna, kerena kebenaran itu milik Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tapi yang salah sebagai manusia itu pasti,” tandasnya.
“Letakkan kebenaran itu di atas segala-galanya, jika sesuatu yang bukan milik kita, jangan kita paksanakan,” pesan Hanubun.
Hanubun menambahkan, sebagai masyarakat yang terkenal dengan adat, harus lebih mengedepankan etika dari pada mengeluarkan kata-kata yang tak pantas dan berteriak bupati bohong. “Itu terkesan tidak berbudaya,” katanya.









