“Ini (pengolahan nikel) menjadi penggerak ekonomi dari timur. Kalau bicara pertumbuhan ekonomi, saat ini, pertumbuhan ekonomi yang paling besar itu ada di Maluku Utara. Kontribusi (ekonomi) terbesar di Maluku Utara salah satunya adalah proses pengolahan ini (nikel). Ini memberikan kontribusi kepada provinsi yang menyumbang kepada Republik Indonesia,” ungkap Tonny.
Lebih lanjut Tonny menjelaskan, proses penambangan nikel perlu memperhatikan aspek-aspek lain. Hal tersebut dibutuhkan agar proses penambangan nikel tidak mengganggu proses pembangunan berkelanjutan. Salah satu aspek yang wajib diperhatikan adalah aspek lingkungan.
“Kewajiban kami, kalau tanah itu sudah habis ditambang, ya, harus direklamasi,” tambahnya.
Sementara itu, Community Affairs General Manager PT Harita Nickel Latif Supriadi, mengatakan bahwa selain aspek lingkungan, aspek sosial juga perlu diperhatikan oleh perusahaan. Untuk itu, semua perusahaan tambang, termasuk PT Harita Nickel, memiliki program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membantu dan memberdayakan masyarakat di area sekitar tambang.
“Di sana (area tambang nikel Pulau Obi), kita juga lakukan pengembangan UMKM. Kemudian, ada pengobatan gratis dan kita juga siapkan ambulans laut. Di (bidang) pendidikan, kita juga siapkan sekolah,” kata Latif.




