“Maaf, Dek survei apa tadi namanya?”
Petugas survei kembali tersenyum dan melihat sesaat ke wajah Bu Kabid yang sangat glowing dan kemudian matanya turun memandang kertas kuisioner yang masih dipegang Bu Kabid.
“Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan, Bu?” jawab petugas masih dengan senyumnya yang lebar, dan tanpa memberi kesempatan lagi pada Ibu Kabid untuk bertanya, petugas tersebut mulai nyerocos menjelaskan tentang survei yang sedang dilaksanakan.
“Maaf, Bu saya mau menambahi informasi tentang survei ini yang sudah saya jelaskan secara singkat via phone kemarin waktu mau buat janji ketemu Ibu,” petugas BPS memperbaiki posisi duduknya dengan menggeser badannya ke depan dan sedikit mencondongkan kepalanya menghadap Ibu Kabid yang duduk tenang di kursi kerjanya.
“Survei ini bertujuan untuk mengetahui sebahagia apa warga masyarakat oleh hasil-hasil pembangunan yang dilaksanakan negara. Karena selama ini kita selalu mengukur pembangunan yang kita laksanakan secara makro dengan melihat indikator Produk Domestik Bruto dan Pertumbuhan Ekonomi yang belum bisa menggambarkan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan di masyarakat juga belum dapat merefleksikan pemerataan pendapatan bagi semua warga negara kita. Dalam survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan ini kita akan melihat bagaimana efek dari pembangunan yang dilaksanakan kepada kebahagiaan seseorang karena kebahagiaan merupakan refleksi dari tingkat kesejahteraan yang telah dicapai oleh setiap individu. Kebahagiaan penduduk juga akan berpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan pembangunan dan perkembangan sosial di masyarakat,” petugas BPS yang dari tag nama yang tergantung di bagian dada bajunya sebelah kanannya tertulis Santy dengan menggebu-gebu menerangkan tentang survei yang dilaksanakan.











