Herinneringen in Amsterdam

oleh -29 views

Bangku itu menyimpan terlalu banyak cerita.

Di sanalah ia pertama kali mengenal Yohana.

Perempuan itu lahir di Utrecht. Paspornya Belanda. Bahasa ibunya adalah Belanda. Namun di ruang tamu rumahnya selalu terdengar lagu-lagu Maluku. Opa dan Omanya berasal dari Pulau Saparua. Mereka datang ke Belanda pada awal 1950-an bersama ribuan orang Maluku lainnya yang berharap suatu hari bisa kembali ke tanah kelahiran. Hari itu tak pernah benar-benar tiba.

Yohana tumbuh dengan cerita tentang laut Banda, pohon pala, hujan di Ambon, dan suara tifa yang tak pernah benar-benar ia dengar sendiri.

“Aku selalu merasa berasal dari tempat yang belum pernah kulihat,” katanya suatu malam.

Baca Juga  KPK Patikan Kasus Amplop Menhut Raja Juli Berlanjut

Gilbert tertawa kecil.

“Kalau begitu datanglah ke Ambon.”

Yohana menatap permukaan kanal yang tenang.

“Mungkin suatu hari.”

**

Mereka bertemu dalam sebuah diskusi mahasiswa internasional tentang migrasi dan identitas. Pertemuan itu berkembang menjadi persahabatan, lalu menjadi kebiasaan yang sulit dipisahkan. Mereka berjalan menyusuri kanal-kanal Amsterdam, menghabiskan sore di museum, berburu buku bekas, atau duduk hingga dini hari di bangku taman sambil membicarakan apa saja—tentang Rembrandt, Pattimura, tentang Laut Banda, juga tentang masa depan yang tak pernah benar-benar bisa ditebak.

No More Posts Available.

No more pages to load.