Herinneringen in Amsterdam

oleh -27 views

Suatu sore Yohana menghadiahkan sebuah novel Peter Pan.

Sampulnya biru.

Di halaman pertama tergambar sebuah hati kecil.

Di bawahnya hanya ada satu kalimat.

“Untuk Gilbert, yang percaya bahwa semua orang akhirnya menemukan jalan pulang.”

Gilbert menyimpan buku itu seperti menyimpan sebagian hidupnya sendiri.

Malam terakhir sebelum kepulangannya, gerimis turun tipis membasahi Amsterdam.

Yohana datang mengenakan mantel abu-abu yang sudah beberapa kali dilihat Gilbert. Rambut pirangnya sedikit basah. Ia duduk tanpa berkata apa-apa.

Mereka membiarkan kesunyian berbicara lebih dulu.

Dua ekor angsa berenang perlahan membelah air Buiksloterkanaal.

“Besok kau pulang,” kata Yohana.

Gilbert mengangguk.

“Ya.”

“Lalu selesai.”

“Bukan selesai.”

“Lalu apa?”

Baca Juga  Sekda dan Komisi III DPRD Haltim Konsultasikan Perencanaan Anggaran 2026 ke BPKP Maluku Utara

Gilbert memandang langit yang mulai gelap.

“Hidup harus berlanjut.”

Yohana tersenyum, tetapi matanya tak mampu menyembunyikan kesedihan.

“Kau beruntung, Gilbert.”

Gilbert menoleh.

“Kenapa?”

“Kau masih punya rumah untuk pulang.”

Gilbert terdiam.

“Bukankah Maluku juga rumahmu?”

Yohana menggeleng pelan.

“Aku lahir di Belanda. Besar di Belanda. Bahasa Melayu Ambonku patah-patah. Orang-orang di sini menyebutku orang Maluku. Mungkin kalau suatu hari aku ke Ambon, mereka akan memanggilku orang Belanda.”

No More Posts Available.

No more pages to load.