Tak ada tanda tangan.
Gilbert memandangi tulisan itu lama sekali.
Ia tidak pernah tahu apakah kartu itu benar-benar dikirim oleh Yohana.
Mungkin memang darinya.
Mungkin pula hanya cara semesta mengembalikan sepotong kenangan.
Ia menutup kartu pos itu, lalu memandang hujan yang turun perlahan di luar jendela.
Saat itulah ia mengerti bahwa setiap manusia memiliki tanah kelahiran, tetapi tidak semua orang memiliki rumah.
Ada yang pulang karena alamat.
Ada yang pulang karena sejarah.
Ada pula yang seumur hidup mencari rumah di dalam cerita-cerita yang diwariskan keluarganya.
Bagi Gilbert, rumah selalu bernama Ambon.
Bagi Yohana, rumah adalah Maluku—sebuah negeri yang hidup lebih dulu di dalam ingatan daripada di peta.
Dan bagi mereka berdua, Amsterdam akan selalu menjadi kota tempat cinta mengajarkan bahwa pulang tidak selalu berarti tiba. (**)









