Herinneringen in Amsterdam

oleh -26 views

Ia menarik napas panjang.

“Aku selalu berada di antara dua rumah yang tak pernah benar-benar menjadi milikku.”

Untuk pertama kalinya Gilbert memahami bahwa sejarah dapat diwariskan seperti luka.

Luka itu bahkan bisa menetap pada orang-orang yang tak pernah mengalami perang, tak pernah meninggalkan kampung halaman, dan tak pernah melihat tanah yang terus diceritakan oleh keluarganya.

“Aku iri padamu,” lanjut Yohana lirih.

“Karena kau bisa pulang.”

Gerimis semakin rapat.

Gilbert ingin mengatakan bahwa ia bisa saja tetap tinggal di Amsterdam. Banyak teman seangkatannya memilih bekerja di Eropa. Masa depannya mungkin lebih mudah.

Namun setiap kali memikirkan ayahnya yang telah pensiun sebagai guru di Ambon, ibunya yang selalu menunggu kabar lewat panggilan video, dan kampus yang telah memberinya beasiswa, ia tahu ke mana langkahnya harus kembali.

Baca Juga  Implosion Persaingan dalam Kekuasaan Korup

Ilmu yang dibawa pulang akan lebih berarti daripada kenyamanan yang ditinggalkan.

“Aku datang ke Belanda untuk belajar,” katanya perlahan. “Bukan untuk melupakan dari mana aku berasal.”

Yohana mengangguk.

Mereka tidak lagi membicarakan masa depan.

Mereka hanya mendengarkan suara hujan, desir angin musim semi, dan lonceng gereja yang menggema dari kejauhan.

No More Posts Available.

No more pages to load.