Menjelang dini hari mereka berdiri.
Yohana memeluk Gilbert erat.
Lebih lama daripada pelukan-pelukan sebelumnya.
“Kalau suatu hari kau kembali ke Amsterdam,” bisiknya, “datanglah ke bangku ini.”
Gilbert mengangguk.
“Kalau aku belum sempat ke Ambon, anggap saja kota ini yang sedang menungguku.”
Esok paginya Gilbert terbang meninggalkan Amsterdam.
***
Tahun-tahun berlalu.
Gilbert kembali ke Ambon, mengajar di universitas tempat ia dulu bercita-cita menjadi dosen. Ia menikah, membangun keluarga, dan mengabdikan ilmunya bagi tanah yang membesarkannya.
Namun setiap kali musim hujan datang dan aroma laut naik bersama angin sore di Teluk Ambon, pikirannya selalu kembali kepada sebuah bangku tua di tepi Buiksloterkanaal.
Novel Peter Pan bersampul biru itu masih tersimpan di rak paling atas ruang kerjanya.
Gambar hati kecil di halaman pertama mulai memudar.
Suatu hari, bertahun-tahun kemudian, sebuah kartu pos tiba tanpa nama pengirim.
Di depannya tergambar kanal Amsterdam yang pernah mereka lewati bersama.
Di baliknya hanya ada beberapa kalimat.
“Aku akhirnya mengunjungi Ambon. Lautnya benar seperti yang diceritakan Opa dan Oma. Ketika pesawat mendarat, aku menangis. Anehnya, aku merasa sedang pulang ke tempat yang belum pernah kutinggali.”









