Dalam sejarah peradaban Islam, Baghdad berdiri sebagai pusat peradaban dan ilmu pengetahuan pada masanya. Di jaman dahulu, kota ini dikenal dengan sebutan Madinat As-Salam (City of Peace) atau Kota Perdamaian. Kota ini menjadi pusat dunia dikarenakan ilmu pengetahuan dan perdagangan yang luar biasa.
Dikutip dari dokumen Baghdad: The City of Peace yang diterbitkan oleh Muslim Heritage, Baghdad merupakan ibu kota yang pada abad ke-10 memiliki populasi setidaknya 800.000 jiwa, dan menjadi kota terbesar kedua di dunia.
Kota Bundar Madinat As-Salam yang Dibangun Al-Mansur
Pembangunan Baghdad dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah kedua (754-775), yang pada saat itu dipimpin oleh Al-Mansur. Pada saat itu, Al-Mansur memilih lokasi di pertemuan Sungai Tigris dan Kanal Sarat karena letak geografisnya yang strategis, yang memungkinkan akses perdagangan melalui dua sistem sungai besar, yaitu Tigris dan Efrat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Struktur utama yang didirikan adalah Kota Bundar, yang pada saat itu menjadi pusat ikonik. Kota ini memiliki empat gerbang utama yang letaknya saling berjauhan, antara lain:
- Gerbang Basrah di Tenggara
- Gerbang Kufah di Barat Daya, yang menjadi rute jemaah haji ke Mekkah
- Gerbang Suriah di Barat Laut
- Gerbang Khurasan yang mengarah ke jembatan perahu utama menyebrangi sungai
Madinat As-Salam Jadi Pusat Ilmu Pengetahuan Dunia
Kejayaan Madinat As-Salam (Baghdad kuno) sebagai pusat ilmu pengetahuan terjadi di bawah kepemimpinan Harun Ar-Rasyid (786 M) dan anaknya Al-Ma’mun. Khalifah Al-Ma’mun mendirikan Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), merupakan sebuah institusi riset dan penerjemahan pertama yang berfungsi sebagai akademi sains.









