Homer Setelah Tiga Ribu Tahun

oleh -22 views

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Ada pohon yang hidup seratus tahun. Ada bangunan yang bertahan lima ratus tahun. Tetapi ada karya yang melampaui usia batu, kerajaan, bahkan agama-agama politik. Ia terus berganti wajah, berganti bahasa, berganti medium, tetapi denyut jantungnya tetap sama. Homer adalah salah satunya.

Bayangkan seorang penyair — atau mungkin sekumpulan penyair — yang hidup sekitar abad ke-8 sebelum Masehi. Ia tidak memiliki kamera. Tidak mengenal mesin cetak. Tidak pernah bermimpi tentang bioskop IMAX.

Namun hampir tiga ribu tahun kemudian, seorang sutradara bernama Christopher Nolan menghabiskan sekitar US$250 juta atau setara Rp 4,5 triliun untuk menghidupkan kembali kisah yang pernah dilantunkan di hadapan api unggun.

Itu lebih besar dari anggaran tahunan banyak pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Sebuah ironi yang indah: kisah yang dahulu hanya berpindah dari mulut ke mulut kini memerlukan dana triliunan rupiah untuk dipertontonkan kepada dunia. Mungkin inilah investasi paling mahal dalam sejarah untuk menghidupkan kembali sebuah puisi.

Baca Juga  Implosion Persaingan dalam Kekuasaan Korup

Dari mulut seorang penyair buta — menurut tradisi Yunani — kisah itu kini memenuhi layar raksasa dengan teknologi paling mutakhir yang dimiliki manusia. Itulah keajaiban sebuah masterpiece. Ia tidak sekadar bertahan. Ia bereproduksi.

No More Posts Available.

No more pages to load.