Langkah keempat ialah membangun laboratorium kemandirian. Pusppar dapat mempertemukan anak muda dengan mentor, perguruan tinggi, pelaku usaha, organisasi masyarakat, dan pemerintah daerah. Tujuannya bukan sekadar melatih mereka agar siap bersaing, tetapi juga membantu mereka menemukan bidang yang dapat dikembangkan menjadi karya, pekerjaan, usaha, dan kontribusi sosial.
Langkah kelima ialah mengukur hasil. Kita tidak cukup menghitung jumlah seminar, peserta pelatihan, atau kegiatan yang terlaksana. Kita perlu mengetahui apakah anak muda mendapatkan akses baru, apakah keluarga menjadi lebih suportif, apakah peserta pelatihan berhasil mengembangkan keterampilan, apakah layanan bantuan semakin mudah dijangkau, dan apakah program benar-benar menjawab persoalan yang ditemukan.
Pusppar tentu tidak dapat bekerja sendirian. Ia perlu berkolaborasi dengan pemerintah daerah, sekolah, pesantren, perguruan tinggi, layanan kesehatan, lembaga perlindungan anak, dunia usaha, dan komunitas. Peran Pusppar adalah membantu menyatukan pengetahuan, memetakan kebutuhan, mengembangkan model intervensi, dan memastikan bahwa upaya perubahan memiliki arah serta ukuran keberhasilan yang jelas.
Saya membayangkan Jawa Timur memiliki ekosistem yang membuat anak muda tidak hanya dituntut menjadi tangguh, tetapi juga diberi kesempatan untuk tumbuh. Sebuah ekosistem yang mengenali persoalan lebih dini, menyediakan bantuan tanpa stigma, membuka kesempatan produktif, dan menjaga agar tidak ada anak yang merasa dirinya tidak lagi memiliki tempat.








