Saya berhenti cukup lama pada angka itu.
Lima belas juta lebih anak bukan sekadar angka dalam laporan penelitian. Mereka adalah anak-anak yang tinggal bersama kita, duduk di bangku sekolah, tumbuh di kampung dan perumahan, belajar di pesantren, mengakses telepon genggam, bercengkerama dengan teman-temannya, dan perlahan-lahan mencoba memahami kehidupan.
Sebagian mungkin tampak baik-baik saja. Mereka tetap masuk sekolah, tertawa, bermain, dan mengunggah foto di media sosial. Namun, penampilan yang terlihat dari luar tidak selalu menjelaskan apa yang sedang berlangsung di dalam diri seseorang.
Yang lebih mengkhawatirkan, survei I-NAMHS juga menemukan bahwa hanya sekitar 2,6 persen remaja yang mengalami masalah kesehatan mental mengakses layanan dukungan atau konseling untuk masalah emosional dan perilaku dalam 12 bulan yang diteliti.
Artinya, ada jarak yang lebar antara kebutuhan dan pertolongan. Bisa jadi seseorang tidak mengetahui ke mana harus meminta bantuan. Bisa jadi keluarga menganggap persoalan itu akan selesai dengan sendirinya. Bisa pula rasa malu, stigma, keterbatasan layanan, atau kekhawatiran akan penilaian orang lain membuat anak memilih diam.
Di sinilah saya mulai merasa bahwa persoalan ini bukan semata-mata urusan anak dan keluarganya. Ada sesuatu dalam cara kita membangun lingkungan sosial yang perlu diperiksa kembali.








