Porostimur.com, Ambon – Pernikahan yang ideal seringkali digambarkan sebagai perjalanan mulus penuh kebahagiaan abadi, namun realitanya tak selalu seindah bayangan. Tak jarang, banyak pasangan merasa terjebak dalam hubungan yang tidak memuaskan selama bertahun-tahun, tanpa menyadari bahwa mereka terperangkap oleh serangkaian kebohongan yang tak termaafkan. Ekspektasi yang keliru ini, yang seringkali dipupuk oleh narasi romantis di media, iklan, hingga dongeng, secara perlahan dapat mengikis fondasi hubungan dan menghalangi kebahagiaan sejati.
Carol Freund, seorang konselor dan psikoterapis, menyoroti pentingnya mengidentifikasi dan menyingkirkan ilusi-ilusi ini demi membangun pernikahan yang lebih sehat dan realistis. Menurutnya, salah satu kebohongan fundamental yang membuat banyak orang menderita dalam pernikahan adalah anggapan bahwa pernikahan itu mudah. Kebohongan tak termaafkan pertama yang membuat orang sengsara dalam pernikahan mereka? Bahwa pernikahan itu mudah,
kata Carol Freund.
Ia melanjutkan bahwa meskipun upaya dalam pernikahan bisa sangat berharga, seperti yang selalu diketahui para putri dan pangeran dongeng, namun jauh dari kata mudah. Pernikahan adalah, pada kenyataannya, sebuah pekerjaan — pekerjaan yang layak, tentu saja, tetapi tetaplah pekerjaan. Dan salah satu hal pertama dalam daftar tugas pernikahan adalah menghapus kebohongan ini dari deskripsi pekerjaan,
imbuhnya. Pemahaman ini menjadi kunci untuk membongkar tiga kebohongan lain yang seringkali menjebak individu dalam lingkaran ketidakbahagiaan.









