Setelah diluncurkan, rudal ini dapat berpatroli di udara secara otonom, mencari target, lalu menukik untuk menyerang. Karakteristik ini membuatnya kerap disebut sebagai “drone kamikaze” versi pertahanan udara.
Kegagalan Deteksi dan Efek Kejutan
Analis dari Hudson Institute, Can Kasapoğlu, menyebut rudal ini sebagai “penyebab alami” dari insiden tersebut.
Ia menyoroti sistem pencari panas pasif yang mampu mengunci target tanpa memancarkan sinyal radar, sehingga lolos dari sistem deteksi F-35.
Pendapat serupa disampaikan mantan pilot Angkatan Udara India, Vijainder K Thakur. Ia menilai sensor F-35 kemungkinan gagal mengenali ancaman hibrida ini sebagai target berbahaya.
“Sulit memprediksi ancaman masa depan. F-35 kemungkinan tidak mengenali hibrida rudal-drone sebagai ancaman tepat waktu,” ujarnya.
Padahal, Amerika Serikat sebenarnya telah mengetahui keberadaan rudal ini sejak beberapa tahun lalu, termasuk saat ditemukan dalam konflik di Yaman.
Murah Tapi Mematikan
Yang mengejutkan, efektivitas Product 358 justru terletak pada kesederhanaannya. Rudal ini dapat diluncurkan dari platform sederhana seperti truk bergerak, bahkan berpotensi digunakan oleh aktor non-negara.
Biayanya pun jauh lebih murah dibandingkan F-35. Jika jet tempur tersebut memiliki biaya siklus hidup hingga lebih dari USD2 triliun, harga rudal ini diperkirakan di bawah USD90.000.










