Pemerintahan sipil terlihat gagap merespons
Pernyataan-pernyataan resmi terdengar normatif, sementara kebijakan konkret tertinggal jauh dari kecepatan kemerosotan ekonomi. Negara berbicara, tetapi tidak menyentuh. Negara hadir, tetapi tidak mengobati. Dalam situasi seperti ini, efektivitas bukan lagi soal niat, melainkan soal kepercayaan yang telah aus.
Pemerintahan Iran hari ini bergerak seperti tubuh yang tertatih
Ia masih berjalan, tetapi langkahnya ragu. Masih berbicara, tetapi suaranya kehilangan bobot. Setiap kebijakan tampak sebagai upaya menahan jatuh, bukan langkah menuju pemulihan. Dalam kondisi tertatih seperti ini, negara tidak runtuh sekaligus—ia melemah perlahan, sambil mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya masih terkendali.
Sikap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tetap berada dalam kerangka lama: menempatkan krisis sebagai bagian dari tekanan eksternal dan “perang ekonomi” yang harus dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan ideologis.
Kerangka ini pernah bekerja. Tetapi hari ini, ia berbenturan dengan kenyataan sehari-hari rakyat—harga yang tak terjangkau, pendapatan yang menyusut, dan masa depan yang terasa buntu.
Masalahnya bukan semata pada isi pesan, melainkan pada jarak antara bahasa kekuasaan dan pengalaman hidup warga. Ketika legitimasi terus ditarik ke masa lalu dan simbol, sementara rakyat hidup dalam kecemasan hari ini, negara perlahan kehilangan daya dengarnya. Ia mendengar suara sendiri, tetapi gagal menangkap bisik keresahan dari bawah.








