Protes meletus tahun lalu di kampus-kampus di seluruh Amerika Serikat, dengan para mahasiswa menuntut diakhirinya dukungan Washington untuk Israel di tengah perang di Gaza.
Demonstrasi tersebut menyusul serangan Hamas pada Oktober 2023 di Israel, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 250 orang disandera. Sebagai tanggapan, pasukan Israel melancarkan serangan besar-besaran yang telah menewaskan lebih dari 50.000 orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, dan telah menghancurkan sebagian besar wilayah Palestina tersebut. Universitas Columbia menjadi titik fokus gerakan protes di AS, bersama dengan UC Berkeley, Harvard, Yale, Michigan, dan Northwestern.
Para pengunjuk rasa, termasuk mahasiswa Yahudi, berpendapat bahwa kritik terhadap kebijakan Israel tidak merupakan anti-Semitisme. Mereka mengatakan advokasi untuk hak-hak Palestina sejalan dengan nilai-nilai inti Amerika.
Namun, yang lain di kampus mengatakan protes tersebut menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat. Satuan tugas Universitas Columbia kemudian menemukan masalah “serius dan meluas” yang memengaruhi mahasiswa Yahudi.
sumber: sindonews









