Michael Beckley, dalam The Middle Power Delusion (Foreign Affairs, 25 Mei 2026), mengingatkan bahwa negara-negara menengah kerap membesar-besarkan kemandirian strategis mereka. Padahal, ketika dua raksasa—Washington dan Beijing—saling menekan, negara seperti Indonesia, menurut Beckley, akan dipaksa masuk ke dalam hierarki dan memilih pihak.
Tetapi pengalaman Kanada memberi sanggahan yang baik. Mark Carney, Perdana Menteri Kanada, pernah menyinggung di Davos bahwa integrasi ekonomi kini justru bisa berubah menjadi senjata.
Kanada adalah sekutu dekat Amerika. Ekonominya melekat pada Amerika. Pertahanannya tersambung dengan Amerika. Namun, ketika Donald Trump berkuasa, Ottawa tetap ditekan dengan tarif dagang yang menyakitkan. Trump bahkan pernah terang-terangan mengatakan bahwa Kanada seharusnya menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat.
Dari sana, Indonesia bisa menarik pelajaran penting: berlindung pada satu raksasa tidak otomatis membuat leher kita aman. Kadang justru sebaliknya. Leher kita jadi lebih mudah dipegang.
Maka cara bertahan bagi negara menengah, menurut Carney, bukanlah mencari pelindung, melainkan memperbanyak pilihan, mengurangi titik ketergantungan, dan membangun daya tawar agar kita datang ke meja perundingan bukan sebagai pemohon.










