Cerpen Karya: Esti Retno Listiyani
Tentang janji yang kamu ucap sepuluh tahun lalu.
Bukan kucatat hanya saja terasa. Ucapanmu terasa seperti ingin sekali bersamaku. Bahkan setelah entah dimana kamu. Janji yang terucap oleh bibir seseorang yang telah meninggalkanku. Bukan aku mendendam, hanya saja aku masih bisa merasakan apa yang telah dilakukannya padaku.
“Hatiku telah sakit, itu adalah alasanku mengapa tidak mencarimu tetapi tetap saja aku merindu. Semenjak saat itu aku tidak pernah melihat lagi sosokmu. Aku tidak tahu dimana kamu sekarang, apa yang sedang kamu lakukan, dan bersama siapa.”
Lamunanku tiba tiba tersadarkan oleh sosok lelaki yang ada di depanku.
“Benar dengan Ibu Aldora” tanya lelaki itu
“Iya benar. Ada apa ya” Tanyaku
“Ini ada titipan surat buat ibu.” Lelaki itu menyodorkan sebuah amplop biru laut dengan hiasan pita cantik.
Kubuka amplop itu, isinya sebuah surat. Kubaca perlahan lahan, sampailah pada isinya, aku kaget bukan main.
“Apa ini mimpi, apa ini cuma khayalanku saja?” Batinku
“Surat ini kiriman dari Farel” teriakku
Orang orang di sekitarku kaget dengan teriakanku dan memandangiku.
Orang yang janjinya selama ini menggangguku. Orang yang telah meninggalkanku sepuluh tahun lalu, kini mengirm surat untukku. Apa maksudnya ini. Apa maksudnya dengan meminta alamatku. Apakah ia akan kembali padaku dengan membawa lara yang aku rasakan ini.




