Air mataku sudah tidak dapat kubendung lagi. Aku sudah tidak tahu mau berbuat apalagi setelah bertemu dengannya ini. Yang kupikarkan hanya ingin cepat cepat lari dari tempat itu.
“Aku kesini karena aku masih punya hutang sama kamu.” Ujarnya
Aku mulai berpikir, apa dia mencariku karena janji yang selalu kupikirkan itu.
Dan dia mengatakan bahwa dia adalah Farel, belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku.
“Jika kamu tidak menginginkan aku datang, aku akan pergi. Tapi, setelah aku menepati janjiku.” Ujar lelaki itu
“Cepat ucapkan apa janjimu itu?” Tanyaku menyesak
“Janjiku adalah melamarmu.”
Sontak kaget aku mendengar ucapannya. Bagaimana mungkin dia berjanji seperti itu. Janji itu sangat sulit menurutku. Air mataku semakit deras rasanya.
“Aku selama ini meninggalmu semua ada alasannya. Aku selama ini pergi hanya untuk mencari modal untuk melamarmu. Aku disana tidak langsung melepaskanmu begitu saja. Aku masih memikirkanmu selama sepuluh tahun ini. Aku selalu takut jika kamu disini sudah memiliki penggantiku. Dan aku selama 2 bulan terakhir ini, waktuku hanya untuk mencarimu.” Jelasnya membuat air mataku semakin deras
“Maaf aku tidak bisa segampang itu menerimanya. Aku masih memiliki sakit yang begitu dalam. Maaf.” Jelasku
Aku langsung cepat cepat meninggalkannya pergi. Aku tidak bisa kembali ke kantor dengan keadaan seperti ini. Aku izin dan kembali ke rumah.




